Abu 'Abdillah Wajid

وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Khutbah Jum'at Tentang Hikmah

Khutbah Jum'at Tentang Hikmah

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Allah SWT berfirman: يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya: “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh, ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS al-Baqarah: 269) Ath-Thabari menafsirkan ayat ini dengan mengatakan dalam kitab tafsirnya: “Allah memberikan hikmah, yaitu ketepatan dalam berucap dan berbuat, kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi ketepatan dalam hal itu, maka ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Apabila seseorang mampu memahami situasi di sekitarnya, tepat dalam menyikapi keadaan dari setiap peristiwa, selalu berupaya untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang benar, serta mampu berucap dan bertindak dengan tepat, maka ia adalah seorang hakim (bijak bestari) yang benar-benar telah dianugerahi hikmah. Allah SWT memuji Luqman, seorang laki-laki saleh, dan menurut pendapat lain, dia adalah seorang nabi, dalam Al-Qur’an: وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ Artinya: “Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah!” (QS Luqman: 12).

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Kata hikmah diambil dari kata "ihkam" yang berarti bagus serta benar dalam berucap dan berbuat. Hikmah dapat menolak "safah" (tindakan bodoh). Oleh karena itu, dikatakan bahwa ilmu adalah hikmah, karena ilmu mencegah kebodohan bagi orang yang mengamalkannya. Jadi, hikmah meniscayakan tindakan yang tepat pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat. Al-Qurthubi mengutip pendapat Mujahid yang menyatakan bahwa hikmah adalah: الْإِصَابَةُ فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ Artinya, “Tepat dalam ucapan dan tindakan.”

Al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib berkata: الْحِكْمَةُ كُلُّ مَا مَنَعَ مِنَ الْجَهْلِ وَزَجَرَ عَنِ الْقَبِيْحِ Artinya, “Hikmah adalah segala yang mencegah dari kebodohan dan menghalangi dari perilaku buruk.” Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Orang-orang yang bijaksana (memiliki hikmah), meskipun sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kebanyakan manusia, telah tercatat dalam sejarah sebagai hukamâ’ (para ahli hikmah) di masa lalu. Dan tiada keraguan sedikit pun bahwa manusia paling agung yang dianugerahi hikmah adalah para nabi, dan nabi paling agung di antara mereka adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Maka dapat dikatakan bahwa beliau adalah imam para ahli hikmah dan manusia paling bijaksana di antara orang-orang bijaksana

Allah SWT berfirman dalam Qur'an surah Al-Ahzab ayat 21: لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡآخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Meneladan para nabi adalah hikmah itu sendiri, karena Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi umat manusia dan memerintahkan kita semua untuk menaati mereka. Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah An-Nisa’ ayat 64: وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah.” Karena Allah telah menetapkan keselamatan dalam mengikuti jejak para nabi, maka siapa pun yang mendambakan keselamatan hendaklah menempuhnya melalui tuntunan mereka yang diwariskan kepada para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dikutip Imam At-Tirmidzi: وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”

Maka marilah kita jadikan ilmu dan hikmah sebagai bekal hidup, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Apa ya hukum shalat dengan mengepalkan tangan ❓️

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (798)
By : Perpustakaan Hadits

🍁TEMA : HUKUM SHALAT SAMBIL MENGEPALKAN TANGAN

🍁PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Apa ya hukum shalat dengan mengepalkan tangan ❓️

🍁DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hukumnya Makruh, apabila shalat sambil mengepalkan tangan.

Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi berkata :

(باب) فرقعة الأصابع وقبض القبضات.يُكره للمصلي فرقعة أصابعه، لقوله صلى الله عليه وسلم: «لا تفرقعوا في الصلاة». (رواه ابن ماجه).ويكره أيضاً للمصلي أن يقبض يديه، فقد ورد في الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى أحداً يقبض يديه في الصلاة قام من فوره بمد أصابعه.(الترمذي وابن ماجه).

(Bab) Menjentikkan jari dan Mengepalkan Tangan. 

Dimakruhkan bagi para pelaksana shalat untuk menjentik-jentikkan jarinya, karena Nabi pernah bersabda :
"Janganlah kamu menjentikkan jarinya saat kamu sedang melaksanakan shalat."
(HR. Ibnu Majah). 

Dan, dimakruhkan pula bagi para pelaksana shalat untuk mengepalkan tangannya, karena dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa ketika Nabi melihat ada seseorang yang mengepalkan tangannya ketika sedang shalat, beliau langsung meluruskan jari-jemari orang tersebut. (HR. AtTirmidzi dan Ibnu Majah).
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/233)
@semua orang

Bagaimana satu AKAD NIKAH, Bisa di katakan SAH jika mempelai pria itu( mohon maaf) Tuli/bisu/Atau mungkin tidak bisa melihat.Apakah cukup dengan bahasa tubuh/ isyarat.Atau mungkin ada yg jadi wakil ( pengantin pria) saat ijab qobul ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (799)
By : Perpustakaan Hadits

🐦TEMA : CARA TUNA RUNGU DAN TUNA WICARA MELAKUKAN IJAB QABUL

🐦PERTANYAAN : 

Anwar al Brutuz

Bagaimana satu AKAD NIKAH, Bisa di katakan SAH jika mempelai pria itu( mohon maaf) Tuli/bisu/Atau mungkin tidak bisa melihat.
Apakah cukup dengan bahasa tubuh/ isyarat.
Atau mungkin ada yg jadi wakil ( pengantin pria) saat ijab qobul ?

🐦DIJAWAB OLEH :

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Dihukumi sah bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara, ijab qabul ( akad nikahnya ) dalam bentuk isyarat yang mudah dipahami atau berupa tulisan.

Bagi yang penyandang tuna netra, ijab qabul dilakukan seperti biasa orang pada umumnya, yaitu melalui ucapan atau perkataan.

Ibnu Hajar Al-Haitamiy mengatakan :

ويَنْعَقِدُ نِكَاحُ الأَخْرَس بِإِشَارَتِهِ الَّتِي لَا يَخْتَصُّ بِفَهْمِهَا الفَطِنُ وَكَذَا بِكِتَابَتِهِ بِلا خِلَافٍ عَلَى مَا فِي المَجْمُوع.

“Dihukumi sah nikahnya penyandang disabilitas rungu dengan bentuk memberikan isyarat (ketika terjadi ijab qabul) yang tidak hanya orang pandai saja yang memahami isyaratnya. (Artinya semua orang yang ada di tempat itu memahami isyarat ijab qabulnya).

Demikian juga pernikahan penyandang disabilitas rungu dihukumi sah (yang ketika terjadi ijab qabul) dia menggunakan tulisan.

Pendapat ini tidak ada yang berbeda pendapat sesuai dengan kitab Majmu' karya Imam An-Nawawi.” 
(Tuhfatul Al Muhtaj, juz VII/ 222 )

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bisa dengan cara menggunakan tulisan atau dengan cara menggunakan bahasa isyarat. 
Yang penting cara tersebut bisa di mengerti dan dipahami. 

Syaikh Zainudin al-Malibari berkata :

وينعقد بإشارة أخرس مفهمة

"Akad nikah sah (jadi) dengan isyaratnya orang yang bisu yang dapat dimengerti."
(Fathul Mu’in, juz 1/161) 

Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dinyathi menjelaskan :

وينعقد نكاح الأخرس بإشارته التي لا يختص بفهمها الفطن، وكذا بكتابته بلا خلاف على ما في المجموع

"Dihukumi sah nikahnya seorang penyandang disabilitas rungu dengan menggunakan bahasa isyarat yang tidak hanya bisa dipahami oleh orang yang pandai saja. 

Begitu juga dihukumi sah dengan menggunakan tulisannya tanpa ada perbedaan di kalangan para ulama sesuai dengan kitab al-Majmu."
( I’anatut Thalibin, juz 1/467)
@semua orang

Ketika ada belatung yang keluar dari dubur, apakah dapat membatalkan wudhu ya sahabat❓

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (794)
By : Perpustakaan Hadits

🪱TEMA : HEWAN BELATUNG YANG KELUAR DARI QUBUL DAN DUBUR DAPAT MEMBATALKAN WUDHU

🪱PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Ketika ada belatung yang keluar dari dubur, apakah dapat membatalkan wudhu ya sahabat❓

🪱DIJAWAB OLEH :

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ya, benar. 
Sesuatu yang keluar dari dua lubang secara tidak normal, seperti batu, belatung, darah, nanah, atau nanah yang bercampur darah, maka semua ini dapat membatalkan wudhu, baik keluar dari qubul maupun dari dubur.

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(باب) نواقض الوضوء 
---
ثانياً: كل ما خرج من الفتحتين على غير العادة، كالحصاة، والدودة، والدم، والقيح، أو القيح المختلط بالدم، فهذا كله ينقض الوضوء، سواء خرج من الدبر أو من الشرج.

(Bab) Nawaqid (yang membatalkan) Wudhu. 
---
Kedua, apa yang keluar dari dua lubang secara tidak normal, seperti batu, belatung, darah, nanah, atau nanah yang bercampur darah, maka semua ini membatalkan wudhu, baik keluar dari qubul maupun dari dubur.
(Al Fiqh Ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/117)

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Benar.
Sesuatu yang keluar dua jalan yakni dubur atau qubul, maka membatalkan wudhu.
Seperti : angin, belatung, darah, cairan madzi, wadi dan kayu.

Al Hasan Al-Mawardi mengatakan :
 
وَكُلُ مَا خَرَجَ مِنْ دُبُرٍ أَوْ قُبُلٍ مِنْ دُودٍ أَوْ دَمٍ أَوْ مَذْيٍ أَوْ وَدْيٍ أَوْ بَلَلٍ أَوْ غَيْرِهِ فَذَلِكَ كُلُّهُ يُوجِبُ الْوُضُوءَ كَمَا وَصَفْتُ.

“Segala sesuatu yang keluar dari dubur (anus) atau qubul (penis/vagina), entah itu belatung, darah, cairan madzi, wadi basah atau yang lainnya, semua itu mewajibkan wudhu, seperti yang sudah saya uraikan.” 
( Al Hawi Al kabir Fi Fiqhi Madzhabil Imam Asy-Syafi'i hal. 809 ) ‫‬‬

( نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ ) أَيْ مَا يَنْتَهِي بِهِ ( أَرْبَعَةٌ ) لَا غَيْرُ ( الْأَوَّلُ الْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ ) يَعْنِي خُرُوْجَ شَيْءٍ مِنْ قُبُلِهِ أَوْ دُبُرِهِ عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَ وَلَوْ نَحْوَ عُوْدٍ وَدُوْدَةٍ أَخْرَجَتْ رَأْسَهَا وَإِنْ رَجَعَتْ وَرِيْحٍ وَلَوْ مِنْ قُبُلٍ.

“(Hal-hal yang merusak wudhu) artinya yang menyebabkan wudhu berakhir (ada empat) dan tidak ada yang lain. (Pertama sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan) artinya keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur dalam bentuk apa pun, meskipun wujudnya kayu, belatung yang menjulurkan kepalanya meskipun kembali masuk, dan angin, meskipun keluar dari qubul-nya.” 
( Al-Minhajul Qowim hal. 36)

Imam Syafi’i mengatakan :

ففيه كله الوضوء لانه خارج من سبيل الحدث قال وكذلك الدود يخرج منه,يَنْقُضُ الوُضُوْءَ.

“Semua hal yang keluar dari jalan hadas, dikatakan juga belatung yang keluar dari dubur maka membatalkan wudhu.
( Al Umm, juz 1/ 717 )
@semua orang

Benarkah apabila seseorang tidak mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa ya❓️

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (793)
By : Perpustakaan Hadits

🕌 TEMA : TIDAK MENGERJAKAN HAL HAL SUNNAH DALAM SHALAT, MAKA TIDAK BERDOSA 

🕌 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Benarkah apabila seseorang tidak mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa ya❓️

🕌 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ya, benar. 
Jika seseorang meninggalkan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa apa pun, dan juga tidak akan menerima pahala dari Allah. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(فصل) تعريف السنة. في الحديث السابق، بيّنا اتفاق الحنابلة والشافعية على أن السنة، المندوبة والمستحبة والمقترحة، تحمل معنى واحدًا، أي ما يُثاب عليه من فعله ولا يُؤثم من تركه.ومن ترك المستحبات في الصلاة أو بعضها فإنه لا يأثم، ولكن لا ينال من الله أجراً أيضاً.وهذا المعنى متفق عليه عند المالكية أيضًا، إلا أنهم يفرقون بين السنة وغيرها، وقد بينا اختلاف كل مذهب، فأعد قراءته لفهمه.

(Bab) Definisi Sunnah 

Pada pembahasan yang telah lalu kami telah menjelaskan bagaimana madzhab Hambali dan Asy-Syafi'i bersepakat bahwa hukum sunnah, mandub (dianjurkan), mustahab (disarankan), dan tathawu (diimbau), itu bermakna sama, yaitu sesuatu yang akan diberi ganjaran bagi orang yang melakukannya namun tidak berdosa bagi mereka yang meninggalkannya. 

Apabila seseorang meninggalkan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat atau sebagiannya, maka ia tidak akan mendapatkan dosa apa pun, namun ia juga tidak akan menerima pahala dari Allah. 

Sebenarnya makna ini juga disepakati oleh madzhab Maliki, hanya saja mereka membeda-bedakan antara sunnah dengan yang lainnya. Kami telah menyampaikan perbedaan tersebut untuk setiap madzhab, maka bacalah kembali untuk lebih memahaminya. 
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/289)
@semua orang

Jika seseorang tidak ikut shalat jum'atpadahal tidak ada udzur lalu ia shalat dzuhurdi rumah sebelum imam shalat jum'atApakah shalat nya sah ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP MENURUT 4 MADZHAB (467)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA :"Tidak sahnya shalat Dzuhur dirumah sebelum imam melaksanakan shalat jum'at"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Jika seseorang tidak ikut shalat jum'at
padahal tidak ada udzur lalu ia shalat dzuhur
di rumah sebelum imam shalat jum'at
Apakah shalat nya sah ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Ustadz Ismidar Abdurrahman As-Sanusi 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh

Menurut Madzhab Syafi'i, sebagaimana diungkapkan para Ulama Syafi'iyah seperti Syeikh Zainuddin Al Malibari dan semisalnya bagi orang yang tidak ada udzur tidak sah shalat Dzuhur sebelum imam shalat Jum'at salam dari shalat Jum'at, meskipun setelah Imam Jum'at mengangkat kepalanya dari ruku' raka'at terakhir, karena kewajibannya Jum'at pada hari itu bukan Dzuhur. Namun, bila orang yang tidak tahu perbuatan itu tidak sah maka shalatnya terhitung sebagai shalat sunah dan wajib melakukan Dzuhur dengan segera.

Wallahu A'lam

Ibarat :

حاشية إعانة الطالبين ج ٢ ص ٦٣ المكتبة نور العلم سورابايا
(فرع) لا يصح ظهر من لا عذر له قبل سلام الامام، فإن صلاها جاهلا انعقدت نفلا
(قوله: لا يصح ظهر من لا عذر قبل سلام الإمام) أي من الجمعة.
ولو بعد رفعه من ركوع الثانية لتوجه فرضها عليه بناء على الأصح أنها الفرض الأصلي، وليست بدلا عن الظهر.
وبعد سلام الإمام يلزمه فعل الظهر على الفور، وإن كانت أداء لعصيانه بتفويت الجمعة، فأشبه عصيانه بخروج الوقت. -الى أن قال- (قوله: فإن صلاها جاهلا) أي بعدم صحتها قبل سلام الإمام.
(قوله: انعقدت نفلا) أي ووجب عليه فعلها ظهرا فورا.
كما مر.

شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم، صفحة ٣٨٤ المكتبة الشاملة
(ومن وجبت عليه) الجمعة وإن لم تنعقد به ( .. لا يصح إحرامه بالظهر قبل سلام الإمام) من الجمعة يقيناً ولو بعد رفع رأسه من ركوع الثانية؛ للزومها له ما أمكن، كما يأتي؛ إذ يمكن أن يشك الإمام في فعل ركن من الأولى، فيأتي بركعة ويدركها معه المأموم، فإن سلم إمامها قبل إحرامه بها .. لزمه فعل الظهر في وقته فوراً، ويكون حينئذٍ أداء على الأصح فيهما.

✅2. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut kesepakatan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, bahwa apabila seseorang melakukan shalat Zuhur sebelum Imam melakukan shalat Jum'at, maka shalat Zuhur yang dia lakukan dinilai tidak sah.

Syaikh Abdurrahman al-Juzairi berkata :

من وجبت عليه الجمعة، وتخلف عن حضورها بغير عذر لا يصح أن يصلي الظهر قبل فراغ الإمام من صلاة الجمعة بسلامه منها، فلو صلى الظهر في هذه الحالة لم تنعقد، باتفاق الشافعية، والحنابلة

"Seseorang yang wajib melaksanakan shalat Jumat, namun dia meninggalkannya tanpa ada uzur, maka dia tidak sah melakukan shalat Zuhur sebelum imam selesai melaksanakan shalat Jumat dengan melakukan salam. Jika melaksanakan shalat Zuhur dalam waktu ini, maka shalatnya tidak sah menurut kesepakatan ulama Syafiiyah dan Hanabilah."
(Alfiqhu alaa madzahib arbaah, juz 1/344)

✅3. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi'i dalam Qaul Jadiid, dan Hambali), tidak sah shalat Zhuhur seseorang sebelum imam melaksanakan shalat jumat.

Wahbah Az Zuhaili berkata

قال الحنفية : من صلى الظهر في منزله يوم الجمعة، قبل صلاة الإمام، ولاعذر له، حرم ذلك، وجازت صلاته جوازاً موقوفاً: فإن بدا له، ولو بمعذرة على المذهب أن يحضر الجمعة، فتوجه إليها، والإمام إليها، والإمام فيها، ولم تُقَم بعد، بطلت صلاة الظهر، وصارت نفلاً عند أبي حنيفة بالسعي، وإن لم يدركها؛ لأن السعي إلى الجمعة من خصائص الجمعة، فينزل منزلتها في حق ارتفاض الظهر احتياطاً، بخلاف ما بعد الفراغ منها؛ لأنه ليس يسعى إليها.
---
وقال الجمهور (المالكية والشافعية في الجديد والحنابلة) : لا تصح للمرء صلاته الظهر قبل أن يصلي الإمام الجمعة، ويلزمه السعي إلى الجمعة إن ظن أنه يدركها؛ لأنها المفروضة عليه، فإن أدركها معه صلاها، وإن فاتته فعليه صلاة الظهر، وإن ظن أنه لا يدركها، انتظر حتى يتيقن أن الإمام قد صلى، ثم يصلي الظهر، والخلاصة: إنه إن صلى الظهر قبل الجمعة لا تصح وتجب عليه الجمعة، فإن كان بعد صلاة الجمعة أجزأه مع عصيانه. ودليلهم : أنه صلى ما لم يخاطب به، وترك ما خوطب به، فلم تصح، كما لو صلى العصر مكان الظهر، ولا نزاع في أنه مخاطب بالجمعة، فسقطت عنه الظهر، كما لو كان بعيداً، ولا خلاف في أنه يأثم بتركه، وترك السعي إليها.

Menurut mazhab Hanafi, siapa yang melakukan shalat Zhuhur di rumahnya pada hari jumat sebelum imam melakukan shalat |umat, sedang ia tidak memiliki halangan apapun maka hukumnya haram. Sedangkan hukumnya dibolehkan melaksanakan shalat tersebut secara mauquf (tergantung) jika ia telah melakukannya, meskipun memiliki halangan yang dibolehkan menurut mazhab Hanafi lalu menghadiri shalat jumat, dan segera mendatanginya. Pada saat itu, imam masih ada di tempat dan shalat belum dilaksanakan maka shalat Dzuhurnya dianggap batal dan menjadi shalat sunnah nafilah saja, menurut Abu Hanifah dengan menyegerakan pergi shalat jumat. 

Jika ia tidak sempat menyusul shalat jumat, sedang menyegerakan pergi untuk melakukan shalat jumat itu merupakan karakteristik shalat jumat maka usahanya mengejar shalat jumat itu sama kedudukannya dengan shalat jumat itu sendiri dalam menunaikan kewajiban shalat Zhuhur untuk berhati-hati. Berbeda halnya jika usaha untuk mengejar shalat jumat itu setelah selesai pelaksanannya maka tidak lagi dinamakan usaha untuk mengejarnya.
----
Sementara menurut mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi'i dalam Qaul Jadiid, dan Hambali), tidak sah shalat Zhuhur seseorang sebelum imam melaksanakan shalat jumat. Ia harus berusaha pergi untuk mengejar shalat jumat jika ia mengira dapat menyusulnya, shalat Jumat itulah yang diwajibkan atas dirinya. Jika ia dapat mengejar shalat f umat bersama imam maka ia harus shalat bersamanya, sedang jika terlewat maka ia cukup menggantinya dengan shalat Zhuhur. 

Adapun jika ia mengira tidak akan dapat mengejarnya maka ia menunggu sampai benar-benar yakin bahwa imam telah menyelesaikan shalat jumat, baru setelah itu ia melaksanakan shalat Zhuhur. Intinya, jika seseorang melakukan shalat Zhuhur sebelum shalat jumat maka shalatnya tidak sah dan wajib melaksanakan shalat jumat. Namun, jika seseorang melakukan shalat Zhuhur setelah shalat jumat maka dibolehkan meski ia dianggap tidak patuh kepada agama. 

Adapun dalil-dalil mereka, yaitu karena seseorang melaksanakan shalat yang tidak diperintahkan untuk melakukannya dan meninggalkan sesuatu yang telah diperintahkan maka shalatnya tidak sah, seperti halnya seseorang melaksanakan shalat Ashar di waktu Zhuhur. Tidak diperdebatkan lagi, bahwa seseorang diperintahkan untuk melakukan shalat jumat maka gugurlah kewajiban shalat Zhuhur atasnya, sebagaimana dianggap gugur jika shalat Iumat dilaksanakan di tempatyang jauh. Tidak diperdebatkan lagi bahwa seseorang berdosa bila meninggalkan shalat jumat, begitu juga berdosa bila meninggalkan untuk berusaha pergi melakukan shalat jumat.
(Alfiqhul islam wa adilauhu juz II/311-312)

Ketika ada seorang anak, menghianati amanah dari orang tua nya, apakah termasuk DOSA BESAR ❓

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (789)
By : Perpustakaan Hadits

🐝 TEMA : DOSA BESAR BAGI SEORANG ANAK YANG MENGHIANATI AMANAH DARI ORANG TUA

🐝 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Ketika ada seorang anak, menghianati amanah dari orang tua nya, apakah termasuk DOSA BESAR ❓

🐝 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Dosa besar. 
Sebab menghianati amanah dari orang tua merupakan salah satu hal yang dapat menyakiti mereka. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(الفصل) الثامنة عشرة الكبرى: إيذاء الوالدين.قال العلماء: من أذى الوالدين أن يحلف كلاهما على الولد خيراً فلا يستجيب، وأن يطلب كلاهما شيئاً فلا يعطيه، وأن يعطياه أمانة فيخونها، وأن يجوع كلاهما وهو شبعان فلا يطعمهما إذا طلبا الشرب بل يضربهما.إنَّ إيذاء الوالدين من أعظم الذنوب التي نهى الله عنها، لأنَّ الله أمر عباده بعبادته أولًا، ثمَّ أمرهم ببرِّ الوالدين وطاعةهما.

(Bab) Dosa Besar Kedelapan belas : Menyakiti Kedua Orangtua. 

Para ulama berkata : "Menyakiti orangtua adalah saat keduanya bersumpah agar si anak melakukan kebaikan, namun anak tidak mengindahkannya, saat keduanya memintanya sesuatu, namun dia tidak memberikannya, saat mereka memberinya amanah, namun dia mengkhianatinya, saat keduanya lapar, dan dia sendiri dalam keadaan kenyang, namun dia tidak memberinya makan saat keduanya meminta minum, namun dia justru memukulnya. 

Menyakiti orangtua termasuk dosa paling besar yang diharamkan Allah. Sebab Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah-Nya pertama kali, kemudian memerintahkan mereka agar berbuat baik dan taat kepada orangtua. 
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 5/397)
Back To Top