وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Apa ya hukum shalat dengan mengepalkan tangan ❓️

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (798)
By : Perpustakaan Hadits

🍁TEMA : HUKUM SHALAT SAMBIL MENGEPALKAN TANGAN

🍁PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Apa ya hukum shalat dengan mengepalkan tangan ❓️

🍁DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hukumnya Makruh, apabila shalat sambil mengepalkan tangan.

Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi berkata :

(باب) فرقعة الأصابع وقبض القبضات.يُكره للمصلي فرقعة أصابعه، لقوله صلى الله عليه وسلم: «لا تفرقعوا في الصلاة». (رواه ابن ماجه).ويكره أيضاً للمصلي أن يقبض يديه، فقد ورد في الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى أحداً يقبض يديه في الصلاة قام من فوره بمد أصابعه.(الترمذي وابن ماجه).

(Bab) Menjentikkan jari dan Mengepalkan Tangan. 

Dimakruhkan bagi para pelaksana shalat untuk menjentik-jentikkan jarinya, karena Nabi pernah bersabda :
"Janganlah kamu menjentikkan jarinya saat kamu sedang melaksanakan shalat."
(HR. Ibnu Majah). 

Dan, dimakruhkan pula bagi para pelaksana shalat untuk mengepalkan tangannya, karena dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa ketika Nabi melihat ada seseorang yang mengepalkan tangannya ketika sedang shalat, beliau langsung meluruskan jari-jemari orang tersebut. (HR. AtTirmidzi dan Ibnu Majah).
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/233)
@semua orang

Bagaimana satu AKAD NIKAH, Bisa di katakan SAH jika mempelai pria itu( mohon maaf) Tuli/bisu/Atau mungkin tidak bisa melihat.Apakah cukup dengan bahasa tubuh/ isyarat.Atau mungkin ada yg jadi wakil ( pengantin pria) saat ijab qobul ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (799)
By : Perpustakaan Hadits

🐦TEMA : CARA TUNA RUNGU DAN TUNA WICARA MELAKUKAN IJAB QABUL

🐦PERTANYAAN : 

Anwar al Brutuz

Bagaimana satu AKAD NIKAH, Bisa di katakan SAH jika mempelai pria itu( mohon maaf) Tuli/bisu/Atau mungkin tidak bisa melihat.
Apakah cukup dengan bahasa tubuh/ isyarat.
Atau mungkin ada yg jadi wakil ( pengantin pria) saat ijab qobul ?

🐦DIJAWAB OLEH :

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Dihukumi sah bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara, ijab qabul ( akad nikahnya ) dalam bentuk isyarat yang mudah dipahami atau berupa tulisan.

Bagi yang penyandang tuna netra, ijab qabul dilakukan seperti biasa orang pada umumnya, yaitu melalui ucapan atau perkataan.

Ibnu Hajar Al-Haitamiy mengatakan :

ويَنْعَقِدُ نِكَاحُ الأَخْرَس بِإِشَارَتِهِ الَّتِي لَا يَخْتَصُّ بِفَهْمِهَا الفَطِنُ وَكَذَا بِكِتَابَتِهِ بِلا خِلَافٍ عَلَى مَا فِي المَجْمُوع.

“Dihukumi sah nikahnya penyandang disabilitas rungu dengan bentuk memberikan isyarat (ketika terjadi ijab qabul) yang tidak hanya orang pandai saja yang memahami isyaratnya. (Artinya semua orang yang ada di tempat itu memahami isyarat ijab qabulnya).

Demikian juga pernikahan penyandang disabilitas rungu dihukumi sah (yang ketika terjadi ijab qabul) dia menggunakan tulisan.

Pendapat ini tidak ada yang berbeda pendapat sesuai dengan kitab Majmu' karya Imam An-Nawawi.” 
(Tuhfatul Al Muhtaj, juz VII/ 222 )

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bisa dengan cara menggunakan tulisan atau dengan cara menggunakan bahasa isyarat. 
Yang penting cara tersebut bisa di mengerti dan dipahami. 

Syaikh Zainudin al-Malibari berkata :

وينعقد بإشارة أخرس مفهمة

"Akad nikah sah (jadi) dengan isyaratnya orang yang bisu yang dapat dimengerti."
(Fathul Mu’in, juz 1/161) 

Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dinyathi menjelaskan :

وينعقد نكاح الأخرس بإشارته التي لا يختص بفهمها الفطن، وكذا بكتابته بلا خلاف على ما في المجموع

"Dihukumi sah nikahnya seorang penyandang disabilitas rungu dengan menggunakan bahasa isyarat yang tidak hanya bisa dipahami oleh orang yang pandai saja. 

Begitu juga dihukumi sah dengan menggunakan tulisannya tanpa ada perbedaan di kalangan para ulama sesuai dengan kitab al-Majmu."
( I’anatut Thalibin, juz 1/467)
@semua orang

Ketika ada belatung yang keluar dari dubur, apakah dapat membatalkan wudhu ya sahabat❓

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (794)
By : Perpustakaan Hadits

🪱TEMA : HEWAN BELATUNG YANG KELUAR DARI QUBUL DAN DUBUR DAPAT MEMBATALKAN WUDHU

🪱PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Ketika ada belatung yang keluar dari dubur, apakah dapat membatalkan wudhu ya sahabat❓

🪱DIJAWAB OLEH :

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ya, benar. 
Sesuatu yang keluar dari dua lubang secara tidak normal, seperti batu, belatung, darah, nanah, atau nanah yang bercampur darah, maka semua ini dapat membatalkan wudhu, baik keluar dari qubul maupun dari dubur.

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(باب) نواقض الوضوء 
---
ثانياً: كل ما خرج من الفتحتين على غير العادة، كالحصاة، والدودة، والدم، والقيح، أو القيح المختلط بالدم، فهذا كله ينقض الوضوء، سواء خرج من الدبر أو من الشرج.

(Bab) Nawaqid (yang membatalkan) Wudhu. 
---
Kedua, apa yang keluar dari dua lubang secara tidak normal, seperti batu, belatung, darah, nanah, atau nanah yang bercampur darah, maka semua ini membatalkan wudhu, baik keluar dari qubul maupun dari dubur.
(Al Fiqh Ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/117)

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Benar.
Sesuatu yang keluar dua jalan yakni dubur atau qubul, maka membatalkan wudhu.
Seperti : angin, belatung, darah, cairan madzi, wadi dan kayu.

Al Hasan Al-Mawardi mengatakan :
 
وَكُلُ مَا خَرَجَ مِنْ دُبُرٍ أَوْ قُبُلٍ مِنْ دُودٍ أَوْ دَمٍ أَوْ مَذْيٍ أَوْ وَدْيٍ أَوْ بَلَلٍ أَوْ غَيْرِهِ فَذَلِكَ كُلُّهُ يُوجِبُ الْوُضُوءَ كَمَا وَصَفْتُ.

“Segala sesuatu yang keluar dari dubur (anus) atau qubul (penis/vagina), entah itu belatung, darah, cairan madzi, wadi basah atau yang lainnya, semua itu mewajibkan wudhu, seperti yang sudah saya uraikan.” 
( Al Hawi Al kabir Fi Fiqhi Madzhabil Imam Asy-Syafi'i hal. 809 ) ‫‬‬

( نَوَاقِضُ الْوُضُوْءِ ) أَيْ مَا يَنْتَهِي بِهِ ( أَرْبَعَةٌ ) لَا غَيْرُ ( الْأَوَّلُ الْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ ) يَعْنِي خُرُوْجَ شَيْءٍ مِنْ قُبُلِهِ أَوْ دُبُرِهِ عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَ وَلَوْ نَحْوَ عُوْدٍ وَدُوْدَةٍ أَخْرَجَتْ رَأْسَهَا وَإِنْ رَجَعَتْ وَرِيْحٍ وَلَوْ مِنْ قُبُلٍ.

“(Hal-hal yang merusak wudhu) artinya yang menyebabkan wudhu berakhir (ada empat) dan tidak ada yang lain. (Pertama sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan) artinya keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur dalam bentuk apa pun, meskipun wujudnya kayu, belatung yang menjulurkan kepalanya meskipun kembali masuk, dan angin, meskipun keluar dari qubul-nya.” 
( Al-Minhajul Qowim hal. 36)

Imam Syafi’i mengatakan :

ففيه كله الوضوء لانه خارج من سبيل الحدث قال وكذلك الدود يخرج منه,يَنْقُضُ الوُضُوْءَ.

“Semua hal yang keluar dari jalan hadas, dikatakan juga belatung yang keluar dari dubur maka membatalkan wudhu.
( Al Umm, juz 1/ 717 )
@semua orang

Benarkah apabila seseorang tidak mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa ya❓️

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (793)
By : Perpustakaan Hadits

🕌 TEMA : TIDAK MENGERJAKAN HAL HAL SUNNAH DALAM SHALAT, MAKA TIDAK BERDOSA 

🕌 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Benarkah apabila seseorang tidak mengerjakan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa ya❓️

🕌 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ya, benar. 
Jika seseorang meninggalkan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat, maka ia tidak akan mendapatkan dosa apa pun, dan juga tidak akan menerima pahala dari Allah. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(فصل) تعريف السنة. في الحديث السابق، بيّنا اتفاق الحنابلة والشافعية على أن السنة، المندوبة والمستحبة والمقترحة، تحمل معنى واحدًا، أي ما يُثاب عليه من فعله ولا يُؤثم من تركه.ومن ترك المستحبات في الصلاة أو بعضها فإنه لا يأثم، ولكن لا ينال من الله أجراً أيضاً.وهذا المعنى متفق عليه عند المالكية أيضًا، إلا أنهم يفرقون بين السنة وغيرها، وقد بينا اختلاف كل مذهب، فأعد قراءته لفهمه.

(Bab) Definisi Sunnah 

Pada pembahasan yang telah lalu kami telah menjelaskan bagaimana madzhab Hambali dan Asy-Syafi'i bersepakat bahwa hukum sunnah, mandub (dianjurkan), mustahab (disarankan), dan tathawu (diimbau), itu bermakna sama, yaitu sesuatu yang akan diberi ganjaran bagi orang yang melakukannya namun tidak berdosa bagi mereka yang meninggalkannya. 

Apabila seseorang meninggalkan hal-hal yang disunnahkan dalam shalat atau sebagiannya, maka ia tidak akan mendapatkan dosa apa pun, namun ia juga tidak akan menerima pahala dari Allah. 

Sebenarnya makna ini juga disepakati oleh madzhab Maliki, hanya saja mereka membeda-bedakan antara sunnah dengan yang lainnya. Kami telah menyampaikan perbedaan tersebut untuk setiap madzhab, maka bacalah kembali untuk lebih memahaminya. 
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 1/289)
@semua orang

Jika seseorang tidak ikut shalat jum'atpadahal tidak ada udzur lalu ia shalat dzuhurdi rumah sebelum imam shalat jum'atApakah shalat nya sah ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP MENURUT 4 MADZHAB (467)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA :"Tidak sahnya shalat Dzuhur dirumah sebelum imam melaksanakan shalat jum'at"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Jika seseorang tidak ikut shalat jum'at
padahal tidak ada udzur lalu ia shalat dzuhur
di rumah sebelum imam shalat jum'at
Apakah shalat nya sah ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Ustadz Ismidar Abdurrahman As-Sanusi 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakaatuh

Menurut Madzhab Syafi'i, sebagaimana diungkapkan para Ulama Syafi'iyah seperti Syeikh Zainuddin Al Malibari dan semisalnya bagi orang yang tidak ada udzur tidak sah shalat Dzuhur sebelum imam shalat Jum'at salam dari shalat Jum'at, meskipun setelah Imam Jum'at mengangkat kepalanya dari ruku' raka'at terakhir, karena kewajibannya Jum'at pada hari itu bukan Dzuhur. Namun, bila orang yang tidak tahu perbuatan itu tidak sah maka shalatnya terhitung sebagai shalat sunah dan wajib melakukan Dzuhur dengan segera.

Wallahu A'lam

Ibarat :

حاشية إعانة الطالبين ج ٢ ص ٦٣ المكتبة نور العلم سورابايا
(فرع) لا يصح ظهر من لا عذر له قبل سلام الامام، فإن صلاها جاهلا انعقدت نفلا
(قوله: لا يصح ظهر من لا عذر قبل سلام الإمام) أي من الجمعة.
ولو بعد رفعه من ركوع الثانية لتوجه فرضها عليه بناء على الأصح أنها الفرض الأصلي، وليست بدلا عن الظهر.
وبعد سلام الإمام يلزمه فعل الظهر على الفور، وإن كانت أداء لعصيانه بتفويت الجمعة، فأشبه عصيانه بخروج الوقت. -الى أن قال- (قوله: فإن صلاها جاهلا) أي بعدم صحتها قبل سلام الإمام.
(قوله: انعقدت نفلا) أي ووجب عليه فعلها ظهرا فورا.
كما مر.

شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم، صفحة ٣٨٤ المكتبة الشاملة
(ومن وجبت عليه) الجمعة وإن لم تنعقد به ( .. لا يصح إحرامه بالظهر قبل سلام الإمام) من الجمعة يقيناً ولو بعد رفع رأسه من ركوع الثانية؛ للزومها له ما أمكن، كما يأتي؛ إذ يمكن أن يشك الإمام في فعل ركن من الأولى، فيأتي بركعة ويدركها معه المأموم، فإن سلم إمامها قبل إحرامه بها .. لزمه فعل الظهر في وقته فوراً، ويكون حينئذٍ أداء على الأصح فيهما.

✅2. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut kesepakatan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, bahwa apabila seseorang melakukan shalat Zuhur sebelum Imam melakukan shalat Jum'at, maka shalat Zuhur yang dia lakukan dinilai tidak sah.

Syaikh Abdurrahman al-Juzairi berkata :

من وجبت عليه الجمعة، وتخلف عن حضورها بغير عذر لا يصح أن يصلي الظهر قبل فراغ الإمام من صلاة الجمعة بسلامه منها، فلو صلى الظهر في هذه الحالة لم تنعقد، باتفاق الشافعية، والحنابلة

"Seseorang yang wajib melaksanakan shalat Jumat, namun dia meninggalkannya tanpa ada uzur, maka dia tidak sah melakukan shalat Zuhur sebelum imam selesai melaksanakan shalat Jumat dengan melakukan salam. Jika melaksanakan shalat Zuhur dalam waktu ini, maka shalatnya tidak sah menurut kesepakatan ulama Syafiiyah dan Hanabilah."
(Alfiqhu alaa madzahib arbaah, juz 1/344)

✅3. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi'i dalam Qaul Jadiid, dan Hambali), tidak sah shalat Zhuhur seseorang sebelum imam melaksanakan shalat jumat.

Wahbah Az Zuhaili berkata

قال الحنفية : من صلى الظهر في منزله يوم الجمعة، قبل صلاة الإمام، ولاعذر له، حرم ذلك، وجازت صلاته جوازاً موقوفاً: فإن بدا له، ولو بمعذرة على المذهب أن يحضر الجمعة، فتوجه إليها، والإمام إليها، والإمام فيها، ولم تُقَم بعد، بطلت صلاة الظهر، وصارت نفلاً عند أبي حنيفة بالسعي، وإن لم يدركها؛ لأن السعي إلى الجمعة من خصائص الجمعة، فينزل منزلتها في حق ارتفاض الظهر احتياطاً، بخلاف ما بعد الفراغ منها؛ لأنه ليس يسعى إليها.
---
وقال الجمهور (المالكية والشافعية في الجديد والحنابلة) : لا تصح للمرء صلاته الظهر قبل أن يصلي الإمام الجمعة، ويلزمه السعي إلى الجمعة إن ظن أنه يدركها؛ لأنها المفروضة عليه، فإن أدركها معه صلاها، وإن فاتته فعليه صلاة الظهر، وإن ظن أنه لا يدركها، انتظر حتى يتيقن أن الإمام قد صلى، ثم يصلي الظهر، والخلاصة: إنه إن صلى الظهر قبل الجمعة لا تصح وتجب عليه الجمعة، فإن كان بعد صلاة الجمعة أجزأه مع عصيانه. ودليلهم : أنه صلى ما لم يخاطب به، وترك ما خوطب به، فلم تصح، كما لو صلى العصر مكان الظهر، ولا نزاع في أنه مخاطب بالجمعة، فسقطت عنه الظهر، كما لو كان بعيداً، ولا خلاف في أنه يأثم بتركه، وترك السعي إليها.

Menurut mazhab Hanafi, siapa yang melakukan shalat Zhuhur di rumahnya pada hari jumat sebelum imam melakukan shalat |umat, sedang ia tidak memiliki halangan apapun maka hukumnya haram. Sedangkan hukumnya dibolehkan melaksanakan shalat tersebut secara mauquf (tergantung) jika ia telah melakukannya, meskipun memiliki halangan yang dibolehkan menurut mazhab Hanafi lalu menghadiri shalat jumat, dan segera mendatanginya. Pada saat itu, imam masih ada di tempat dan shalat belum dilaksanakan maka shalat Dzuhurnya dianggap batal dan menjadi shalat sunnah nafilah saja, menurut Abu Hanifah dengan menyegerakan pergi shalat jumat. 

Jika ia tidak sempat menyusul shalat jumat, sedang menyegerakan pergi untuk melakukan shalat jumat itu merupakan karakteristik shalat jumat maka usahanya mengejar shalat jumat itu sama kedudukannya dengan shalat jumat itu sendiri dalam menunaikan kewajiban shalat Zhuhur untuk berhati-hati. Berbeda halnya jika usaha untuk mengejar shalat jumat itu setelah selesai pelaksanannya maka tidak lagi dinamakan usaha untuk mengejarnya.
----
Sementara menurut mayoritas ulama (mazhab Maliki, Syafi'i dalam Qaul Jadiid, dan Hambali), tidak sah shalat Zhuhur seseorang sebelum imam melaksanakan shalat jumat. Ia harus berusaha pergi untuk mengejar shalat jumat jika ia mengira dapat menyusulnya, shalat Jumat itulah yang diwajibkan atas dirinya. Jika ia dapat mengejar shalat f umat bersama imam maka ia harus shalat bersamanya, sedang jika terlewat maka ia cukup menggantinya dengan shalat Zhuhur. 

Adapun jika ia mengira tidak akan dapat mengejarnya maka ia menunggu sampai benar-benar yakin bahwa imam telah menyelesaikan shalat jumat, baru setelah itu ia melaksanakan shalat Zhuhur. Intinya, jika seseorang melakukan shalat Zhuhur sebelum shalat jumat maka shalatnya tidak sah dan wajib melaksanakan shalat jumat. Namun, jika seseorang melakukan shalat Zhuhur setelah shalat jumat maka dibolehkan meski ia dianggap tidak patuh kepada agama. 

Adapun dalil-dalil mereka, yaitu karena seseorang melaksanakan shalat yang tidak diperintahkan untuk melakukannya dan meninggalkan sesuatu yang telah diperintahkan maka shalatnya tidak sah, seperti halnya seseorang melaksanakan shalat Ashar di waktu Zhuhur. Tidak diperdebatkan lagi, bahwa seseorang diperintahkan untuk melakukan shalat jumat maka gugurlah kewajiban shalat Zhuhur atasnya, sebagaimana dianggap gugur jika shalat Iumat dilaksanakan di tempatyang jauh. Tidak diperdebatkan lagi bahwa seseorang berdosa bila meninggalkan shalat jumat, begitu juga berdosa bila meninggalkan untuk berusaha pergi melakukan shalat jumat.
(Alfiqhul islam wa adilauhu juz II/311-312)

Ketika ada seorang anak, menghianati amanah dari orang tua nya, apakah termasuk DOSA BESAR ❓

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (789)
By : Perpustakaan Hadits

🐝 TEMA : DOSA BESAR BAGI SEORANG ANAK YANG MENGHIANATI AMANAH DARI ORANG TUA

🐝 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Ketika ada seorang anak, menghianati amanah dari orang tua nya, apakah termasuk DOSA BESAR ❓

🐝 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Dosa besar. 
Sebab menghianati amanah dari orang tua merupakan salah satu hal yang dapat menyakiti mereka. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

(الفصل) الثامنة عشرة الكبرى: إيذاء الوالدين.قال العلماء: من أذى الوالدين أن يحلف كلاهما على الولد خيراً فلا يستجيب، وأن يطلب كلاهما شيئاً فلا يعطيه، وأن يعطياه أمانة فيخونها، وأن يجوع كلاهما وهو شبعان فلا يطعمهما إذا طلبا الشرب بل يضربهما.إنَّ إيذاء الوالدين من أعظم الذنوب التي نهى الله عنها، لأنَّ الله أمر عباده بعبادته أولًا، ثمَّ أمرهم ببرِّ الوالدين وطاعةهما.

(Bab) Dosa Besar Kedelapan belas : Menyakiti Kedua Orangtua. 

Para ulama berkata : "Menyakiti orangtua adalah saat keduanya bersumpah agar si anak melakukan kebaikan, namun anak tidak mengindahkannya, saat keduanya memintanya sesuatu, namun dia tidak memberikannya, saat mereka memberinya amanah, namun dia mengkhianatinya, saat keduanya lapar, dan dia sendiri dalam keadaan kenyang, namun dia tidak memberinya makan saat keduanya meminta minum, namun dia justru memukulnya. 

Menyakiti orangtua termasuk dosa paling besar yang diharamkan Allah. Sebab Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah-Nya pertama kali, kemudian memerintahkan mereka agar berbuat baik dan taat kepada orangtua. 
(Al Fiqh ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 5/397)

Apa saja ya syarat-syarat seseorang wajib menghadiri acara walimah pernikahan ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (788)
By : Perpustakaan Hadits

💦 TEMA : SYARAT WAJIB MENGHADIRI ACARA WALIMAH 

💦 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Apa saja ya syarat-syarat seseorang wajib menghadiri acara walimah pernikahan ?

💦 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia  

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ada 15 (lima belas) syarat, seseorang diwajibkan untuk menghadiri acara walimah pernikahan dan sunahnya menghadiri undangan makan lainnya. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

شروط حضور حفلات الزفاف، وسنة حضور دعوات الطعام الأخرى، هي:أولاً: لا تقتصر الدعوة على الأغنياء فقط، بل تشمل الفقراء أيضاً. وهذا لا يعني دعوة الجميع، بل حصر الدعوة على الأغنياء فقط، مما يدل على الفخر والتفاخر والرغبة في المدح. والدين لا يقر هذا السلوك. فإن دُعي الأغنياء لا فخراً ولا تفاخراً، بل لكونهم جيراناً أو زملاء عمل، فلا حرج.ثانياً: أن تكون الدعوة في اليوم الأول من المناسبة. فإن استمر الاستقبال ثلاثة أيام فأكثر، فاليوم الأول واجب، واليوم الثاني سنة، والأيام التي تليها مكروهة.ثالثًا: أن يكون الداعي مسلمًا. فإن كان غير مسلم، فلا يجب. وإن كان غير مسلم، فهو سنة غير مؤكدة.رابعًا: للداعي حق مطلق في اتخاذ الإجراءات القانونية. فإن كان محجورًا عليه (محرومًا من إجراء المعاملات)، فلا يجوز تلبية الدعوة إذا كان الزواج من مال الولي (المكلف بإجراء المعاملات عن المحجور عليه). وإن كان المنظم هو الولي، وعلى نفقته الخاصة، وجب تلبية الدعوة.خامسًا: أن تكون الدعوة موجهة إلى الشخص المعني بوضوح، سواء من الداعي أو من مبعوثه.سادسًا، لا يدعو المُضيف الضيف خوفًا منه، ولا رغبةً في استغلال نفوذه، أو مساعدته على ارتكاب المنكر.سابعًا، لا يعتذر الضيف للمُضيف، ويتقبل غيابه بصدر رحب، لا خجلًا منه. وهذا يُستدل عليه من هذه الدلائل. ثامنًا: ألا يكون الداعي فاسقًا أو من أهل التفاخر.تاسعًا: أن يكون أكثر مال الداعي ليس بحرام، فإن كان حرامًا كرهت زيارته. فإن علم أن الطعام الذي يُقدم له حرامٌ بين، فلا يجوز له أكله، لأن المال الحرام حرام. وإن لم يكن حرامًا بينًا، جاز له أكل ما شاء. وإن كان أكثر مال الداعي مشتبهًا به، فلا تجب تلبية الدعوة ولا تستحب.عاشرًا: إذا كانت الداعية امرأة، وإن لم تكن محرمًا، وجب عليها أن تصطحب محرمها، أو أن يحضر المدعو محرمها، حتى لا تكون خلوة، وإن كانت الخلوة في ذلك الوقت قليلة.الحادي عشر: تُوجَّه الدعوات إلى حفل الزفاف، الذي يبدأ بعد عقد القران.ثاني عشر: ألا يكون المدعو قاضيًا أو موظفًا، فلا يُلزم القاضي أو الموظف بالحضور ما دام ذلك من اختصاصه، بل يحرم عليهما الحضور إذا كان الداعي منشغلًا بقضيةٍ يتولاها.ثالث عشر: ألا يكون الداعي له عذرٌ شرعيٌّ يُبيح له ترك صلاة الجماعة، كالمرض. رابع عشر: ألا يكون الداعي امرأةً أو صبيًا صغيرًا يُغري الداعي أو يُحرجه.خامس عشر: ألا يكون الداعي أكثر من واحد، فإن كثر، يُقدَّم الأول، ثم الأقرب، ثم الأقرب من أهل البيت، فإن تساوى، تُجرى القرعة.

Syarat seseorang wajib menghadiri walimah pernikahan dan sunnahnya mendatangi undangan makan lainnya ialah : 
👉Pertama, yang diundang tidak khusus orang-orang kaya, tetapi juga orang-orang miskin. Bukan berarti mengundang semua orang, melainkan tidak membatasi undangan hanya orang kaya saja, yang menunjukkan bangga diri, riya dan gila pujian. Agama tidak mengakui sikap seperti ini. Jika orang-orang kaya diundang bukan karena bangga diri ataupun riya, melainkan karena tetangga atau rekan kerja maka tidaklah mengapa. 

👉 Kedua, undangan itu untuk acara hari pertama. Jika walimah diadakan selama tiga hari atau lebih maka yang wajib hanya pada hari pertama, sunnah pada hari kedua, sementara hari berikutnya makruh. 

👉 Ketiga, si pengundang seorang Muslim. Jika orang kafir maka tidak wajib. jika kafir dzimmi maka hukumnya sunnah ghairu muakkadah. 

👉 Keempat, si pengundang memiliki hak mutlak melakukan tindakan hukum. Jika ia diampu (dicegah dari bertransaksi) maka haram dipenuhi apabila walimah dibiayai harta si pengampu (orang yang diserahi wewenang transaksi bagi orang yang diampu). Jika yang menyelenggarakan adalah walinya atas biayanya sendiri maka wajib dipenuhi. 

👉 Kelima, undangan jelas-jelas ditujukan kepada pribadi, baik oleh si pengundang maupun oleh utusannya. 

👉 Keenam, si empunya hajat mengundang bukan karena takut terhadap yang diundang, bukan karena ingin memanfaatkan pengaruhnya, bukan pula untuk membantunya melakukan kebatilan. 

👉 Ketujuh, yang diundang tidak menyatakan udzur kepada si pengundang lalu ketidakdatangannya direlakan dengan lapang dada, bukan karena malu. Hal ini bisa diketahui melalui indikasi-indikasinya. 

👉 Kedelapan, si pengundang bukan orang fasik atau yang suka membanggakan diri. 

👉 Kesembilan, sebagian besar kekayaan si pengundang tidak haram. Jika haram maka mendatanginya makruh. Jika ia tahu bahwa makanan yang dihidangkan kepadanya jelas-jelas dari hasil yang haram maka ia tidak boleh menyantapnya karena harta yang haram, haram pula dimakan. Kalau keharamannya tidak jelas-jelas pada makanan tersebut maka diperbolehkan memakan apa yang diinginkan. Jika sebagian besar kekayaannya syubhat-bukan haram-maka menghadiri undangannya boleh tidak wajib ataupun sunnah. 

👉 Kesepuluh, jika si pengundang wanita, apabila bukan mahram, si pengundang harus didampingi mahramnya atau yang diundang membawa mahramnya, sehingga tidak terjadi khalwat (berdua-duaan) sekalipun kemungkinan terjadiny a khalwat ketika itu kecil. 

👉 Kesebelas, undangan ditujukan pada acara walimah, yakni sejak dilangsungkannya akad nikah. 

👉 Kedua belas, yang diundang bukan hakim atau pejabat. Maka, hakim atau pejabat tidak wajib menghadirinya selama masih dalam wilayah kerjanya. Bahkan, haram ia menghadirinya jika si pengundang sedang beperkara yang kasusnya ia tangani. 

👉 Ketiga belas, yang diundang tidak memiliki udzur syar'i yang membolehkannya tidak shalat berjamaah, misalnya sakit. 

👉 Keempat belas, yang diundang bukan seorang wanita atau remaja laki-laki tanggung yang berpotensi menimbulkan godaan atau mempermalukan si pengundang. 

👉 Kelima belas, si pengundang tidak lebih dari satu. Kalau lebih dari satu maka yang didahulukan ialah yang lebih dahulu mengundang, kemudian yang lebih dekat hubungan kekerabatannya, kemudian yang lebih dekat rumahnya. Kalau sama maka diundi.
(Al Fiqh Ala Al-Madzhab ala Arbaah, juz 2/38)

Ketika membaca doa qunut, ke manakah arah pandangan, apakah tetap diarahkan pada tempat sujud atau diarahkan ke kedua tangan ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (787)
By : Perpustakaan Hadits

🩷 TEMA : ARAH PANDANGAN (MATA) KETIKA SEDANG QUNUT

🩷 PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Ketika membaca doa qunut, ke manakah arah pandangan, apakah tetap diarahkan pada tempat sujud atau diarahkan ke kedua tangan ?

🩷 DIJAWAB OLEH :

Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Jika saat membaca doa qunut kita mengangkat kedua tangan dengan cara keduanya ditempelkan, maka kita cukup melihat kedua tangan tersebut. Hal ini karena untuk melihat ke arah tempat sujud dinilai uzur karena terhalangi dengan kedua tangan. 

Adapun jika kita mengangkat kedua tangan dengan cara keduanya direnggangkan, maka kita tetap disunahkan melihat ke tempat sujud, buka melihat ke tangan atau arah lainnya.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan :

وَبَحَثَ أَنَّهُ فِي حَالِ رَفْعِهِمَا يَنْظُرُ إلَيْهِمَا لِتَعَذُّرِهِ حِينَئِذٍ إلَى مَوْضِعِ السُّجُودِ وَمَحَلُّهُ إنْ أَلْصَقَهُمَا لَا إنْ فَرَّقَهُمَا

"Dijelaskan bahwa ketika orang yang salat mengangkat kedua tangan (saat membaca doa qunut), maka dia melihat kedua tangan tersebut karena dinilai uzur untuk melihat ke tempat sujud dalam keadaan demikian. Tempatnya (melihat ke tangan) jika kedua tangan ditempelkan, bukan ketika keduanya direnggangkan."
(Tuhfatul Muhtaj, juz 1/201)
@sorotan

Bolehkah laki-laki memakai cincin yang terbuat dari bahan timah ya❓️

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (786)
By : Perpustakaan Hadits

🩶 TEMA : HUKUM LAKI-LAKI MENGENAKAN CINCIN YANG TERBUAT DARI BAHAN TIMAH

🩶 PERTANYAAN : 

Fitroh Handianto 

Bolehkah laki-laki memakai cincin yang terbuat dari bahan timah ya❓️

🩶 DIJAWAB OLEH :

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Boleh. 

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi berkata :

يجوز للرجال لبس خواتم الفضة، بل يستحب ذلك، ما لم يكن فيها إفراط حسب العرف.إذا كان مُفرطًا، فهو حرامٌ وفقًا للعرف. والأصل لبسه في البنصر الأيمن، ويُستحب توجيه العينين نحو الكف. أما الرجال، فالخواتم من الذهب حرامٌ قطعًا، بينما الخواتم من الحديد والنحاس والقصدير جائزةٌ على رأيٍ صحيح، وهو رأي المذهب الشافعي.

Pria dihalalkan bercincin perak, bahkan dianjurkan, selama tidak berlebihan menurut kebiasaan masyarakat setempat. 

Jika berlebih menurut kebiasaan masyarakat setempat maka haram. Yang utama ialah dikenakan di jari manis kanan, dan dianjurkan memasangnya matanya menghadap arah telapak tangan. Bagi pria, cincin dari emas hukumnya haram mutlak, sedangkan cincin dari besi, tembaga, dan timah hukumnya boleh menurut pendapat yang shahih. Demikianlah pendapat madzhab Syafi'i.
(Al Fiqh ala Al-Madzhab, juz 2/19)

👉 Isrini Madiun Rinrin 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Boleh laki laki memakai cincin berbahan perak, tembaga dan timah.

Ali bin Abu Thalib ra berkata; 

 رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ وَعَنْ لِبَاسِ الْقَسِّيِّ وَعَنْ الْقِرَاءَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَعَنْ لِبَاسِ الْمُعَصْفَرِ  

“Rasulullah melarangku memakai cincin emas, pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud, serta pakaian yang di celup warna kuning.” 
(H.R Muslim)

Anas bin Malik ra berkata :

كَتَبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – كِتَابًا – أَوْ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ – فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لاَ يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلاَّ مَخْتُومًا . فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ . كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِى يَدِهِ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah menulis atau ingin menulis. Ada yang mengatakan padanya, mereka tidak membaca kitab kecuali dicap. 

Kemudian beliau mengambil cincinnya dari perak yang terukir nama ‘Muhammad Rasulullah’. Seakan-akan saya melihat putihnya tangan beliau.” 
(HR. Bukhari nomor 65 dan Muslim nomor 2092)

يجوز للرجل لبس خاتم الفضة في خنصر يمينه، وإن شاء في خنصر يساره، كلاهما صح فعله عن النبي ﷺ .وَلاَ بَأْسَ بِلُبْسِ غَيْرِ الْفِضَّةِ مِنْ نُحَاسٍ رَصَاصٍ أَوْ غَيْرِهِ,

Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak di kelingking kanannya. Dan jika mau di kelingking kirinya. Keduanya itu benar merupakan perbuatan yang datang dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Tidak masalah mengenakan perhiasan selain dari perak, seperti tembaga, timah atau logam yang lainnya.
( Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, juz 11/26 )

SHALAT BERJAMAAH LEBIH UTAMA DARI PADA SHALAT SENDIRIAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 
💐💐💐
TAKHRIJ HADITS KITAB DZURRATUN NASIHIN OLEH DR.K.H AHMAD LUTFI FATHULLAH
HADITS KE - 108
💐💐💐

" SHALAT BERJAMAAH LEBIH UTAMA DARI PADA SHALAT SENDIRIAN "

Allah melipatgandakan pahala orang-orang yang shalat berjamaah di masjid daripada orang yang shalat sendirian, dan setiap langkahnya menuju masjid juga bernilai pahala. 

Selama perjalanan menuju ke masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah atau ibadah lainnya, dan wudhu yang dilakukan dari rumah belum batal, maka Allah akan mengangkat derajat orang tersebut meskipun belum melaksanakan shalat, namun ketika orang tersebut sudah masuk masjid, pahala shalatnya telah dicatat sebagai amalan ibadah. Allah juga akan menghapus dosa-dosa kecil yang sudah pernah dilakukan di masa lalu. Malaikat juga memohonkan ampun kepada Allah atas dosa-dosa dan taubat orang-orang yang shalat di masjid.

Orang yang mengutamakan shalat dengan berjamaah di masjid, maka Allah memuliakannya dengan memberikan pahala 27 derajat daripada yang shalat sendirian di rumah.

Dari Ibnu Umar ra, Rasûlullâh Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

الجماعة تفضل على الفرد بسبع وعشرين درجة.

"Shalat jamaah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
( HR. Bukhari dan Muslim )

Takhrīj Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu 'Umar. Hukum Hadits: Şhahih.
( Dzurratun Nasihin Takhrij Hadits, juz 4/90 )

Apakah wasiat orang murtad itu sah ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP 
MENURUT 4 MADZHAB (784)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA : "Wasiat orang murtad"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Apakah wasiat orang murtad itu sah ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Rina Leriyani I 

Waalaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut Malikiyyah, Syafi'iyyah, dan Hanabilah , jika wasiatnya sesuatu yang tidak diharamkan secara syara' maka sah , jika wasiatnya Sesuatu yang diharamkan secara syara maka wasiatnya ditagguhkan.

Wahbah Az Zuhaili bekata

وصية المرتد 
تصح وصية المرتد في غير محرَّم شرعاً عند المالكية والشافعية والحنابلة؛ لأن وصية الكافر للمسلم صحيحة، والمرتد كافر. والمحرم شرعاً كانتفاع المسلم بالخمر والخنزير. لكنهم قالوا: تكون موقوفة؛ كبقية تصرفاته من معاوضات وتبرعات؛ لأنه مال تعلق به حق الغير، فإن عاد إلى الإسلام نفذت، وإن مات أو قتل لردته بطلت، تغليظاً عليه بقطع ثوابه، بخلاف وصية المريض.
وفرق الحنفية بين المرأة والرجل، فقالوا: تصح وصايا المرأة، وتكون نافذة، كما تصح جميع تصرفاتها؛ لأنها لا تقتل عندهم بسبب الردة.
أما الرجل المرتد: فوصيته موقوفة، فإن عاد إلى الإسلام ومات عليه نفذت وصاياه كجميع تصرفاته، وإن مات على الردة بطلت وصاياه وتصرفاته جميعها.
وأخذ القانون بمذهب الجمهور.

Wasiat orang murtad

Menurut golongan Malikiyyah, Syafi'iyyah, dan Hanabilah, wasiat orang murtad untuk sesuatu yang tidak diharamkan secara syara' adalah sah. Karena, wasiat seorang kafir kepada Muslim adalah sah dan orang murtad adalah orang kafir. Sesuatu yang diharamkan secara syara' misalnya mewasiatkan kepada orang Islam dengan menggunakan khamar atau babi. Namun, golongan ini mengatakan, wasiat orang murtad ditangguhkan; seperti tasharruf-tasharrufnya yang lain. Karena, hal ini adalah harta yang berhubungan dengan hak orang lain. Jika dia kembali masuk Islam, maka wasiatnya dilaksanakan. Dan jika mati atau dibunuh karena kemurtadannya maka wasiatnya batal, sebagai pemberatan baginya dengan terputusnya pahalanya, berbeda dengan wasiat orang yang sakit.

Golongan Hanafiyyah membedakan wasiat yang dibuat orang murtad perempuan dengan orang murtad laki-laki. Mereka mengatakan, wasiat orang murtad perempuan sah dan dilaksanakan, sebagaimana sahnya semua tasharruf yang dilakukannya; karena dia tidak dibunuh menurut golongan ini karena kemurtadannya.

Sedang wasiat laki-laki murtad ditangguhkan. Jika dia kembali masuk Islam dan mati dalam keadaan Islam, wasiatnya dilaksanakan seperti juga semua tasharrufnya. Dan jika dia mati dalam keadaan murtad maka wasiatnya batal, juga semua tasharruf yang dilakukannya.

Perundangan menggunakan pendapat jumhur ulama.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz VIII/60-61)

✅2. Isrini Madiun Rinrin 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Tergantung.
Jika wasiat dari orang murtad itu bertujuan untuk berbuat kebaikan, maka wasiatnya sah.

Tetapi jika wasiat dari orang murtad tersebut untuk tujuan menolong kemaksiatan, maka wasiatnya tidak sah.

Ibnu Qasim mengatakan :

شرط صح الموصي. المصنف شرط الموصي في قوله (وتصح) وفي بعض النسخ، وتجوز (الوصية من كل بالغ عاقل) أي مختار حر وإن كان كافراً، يَرْتَدُّ عَنِ الدِّيْنِ أو محجوراً عليه بسفه، فلا تصح وصية مجنون ومغمى عليه، وصبي ومكره.

Syarat Sah Wasiat.

Mushannif menjelaskan syarat orang wasiat di dalam perkataan beliau.

Hukumnya sah, dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa “hukumnya diperbolehkan”, wasiat setiap orang yang baligh dan yang berakal, maksudnya orang yang berkehendak sendiri yang merdeka, walaupun orang kafir, murtad atau orang yang mahjur alaih sebab safih.

Sehingga tidak sah wasiat yang dilakukan orang gila, mughma alaih (epilepsi), anak kecil dan yang dipaksa.
( Fathul Qarib, juz 2/ 164 )

Yِahya bin Abil Khair Al Imrani menjelaskan:

وَلَا تَصِحُّ الْوَصِيَّةُ بِمَا لَا قُرْبَةَ فِيهِ، كَالْوَصِيَّةِ لِمَنْ
 يَرْتَدُّ عَنِ الدِّيْنِ، وَيَقْطَعُ الطَّرِيْقَ. ... لِأَنَّ ذَلِكَ إِعَانَةٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، وَالْوَصِيَّةُ إِنَّمَا جُعِلَتْ لِاكْتِسَابِ الْحَسَنَاتِ

"Wasiat tidak sah jika berkaitan dengan hal yang tidak punya nilai mendekatkan diri (kepada Allah) di dalamnya, seperti wasiat untuk seorang yang murtad dari agama, orang yang membegal di tengah jalan … karena semua itu adalah bentuk pertolongan terhadap kemaksiatan, sementara wasiat dilegalkan dengan tujuan untuk berbuat kebaikan. (Al-Bayan fi Madzhabil Imam As-Syafi'i, juz VIII/ 161).
@sorotan

Apa hukum berburu ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP 
MENURUT 4 MADZHAB (783)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA : "Hukum berburu"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Apa hukum berburu ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hukum berburu adalah mubah asal bukan di tanah haram Mekah , jika untuk bersenang senang maka makruh , 

Wahbah Az Zuhaili berkata

حكم الصيد: الاصطياد مباح لقاصده إجماعاً في غير حرم مكة وحرم المدينة، لغير المحرم بحج أو عمرة. ويؤكل المصيد إن كان مأكولاً شرعاً لقوله تعالى: {وإذا حللتم فاصطادوا} [المائدة:5/ [2]] أمر بعد حظر، فيفيد الإباحة. ولقوله سبحانه: {وحرم عليكم صيد البر ما دمتم حرماً} [المائدة:5/ 96] 
---
ويكره الصيد لهواً، لأنه عبث لقوله عليه السلام: «لا تتخذوا شيئاً فيه الروح غرضاً» أي هدفاً «من قتل عصفوراً عبثاً، عج إلى الله يوم القيامة يقول: يارب، إن فلاناً قتلني عبثاً، ولم يقتلني منفعة» . وهو حرام إن كان فيه ظلم الناس بالعدوان على زروعهم وأموالهم؛ لأن الوسائل لها أحكام المقاصد

Hukum berburu adalah mubah, asalkan bukan di Tanah Haram Mekah dan Madinah bagi yang bukan muhrim haji atau umrah. Hewan buruan boleh dimakan, karena Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya,

"... Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu...." 
(al-Maa'idah: 2)

Ayat ini merupakan perintah setelah didahului dengan pelarangan sehingga mengandung arti mubah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman yang artinya,

"Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (kembali)." 
(al-Maa'idah: 96)
---
Hukum berburu makruh jika hanya untuk bersenang-senang yang termasuk lahwu karena Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah engkau menjadikan seekor hewan sebagai sasaran. Siapa saja yang membunuh burung pipit hanya untuk main-main, maka nanti burung itu pada hari Kiamat akan berteriak, "Ya Allah, orang ini telah membunuhku secara sia-sia tanpa memanfaatkannya." Pembunuhan hewan hanya karena main-main ini hukumnya haram.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz III/691-692)

✅2. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hukum berburu adalah Mubah.

Berburu di laut boleh dalam keadaan apapun begitu pula dengan berburu di darat, kecuali dalam keadaan ihram.

Sayyid sabiq berkata : 

وهو مباح، أباحه الله سبحانه بقوله: " وإذا حللتم فاصطادوا ". والصيد مباح كله، ما عدا صيد الحرم، فقد تقدم الكلام عليه في باب الحج. وصيد البحر جائز في كل حال، وكذلك صيد البر، إلا في حالة الاحرام.

Berburu hukumnya mubah. Allah membolehkan berburu sebagaimana dalam firmannya :
"Dan apabila kamu menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kamu berburu."
(Qs. Al - Maidah, Ayat 2) 

Semua buruan dibolehkan kecuali buruan bagi orang-orang yang berihram. Hal ini telah diulas dalam bahasan terdahulu mengenai ibadah haji. Buruan di laut boleh dalam keadaan apapun demikian pula dengan buruan di darat, kecuali dalam keadaan ihram. 
(Fiqhus Sunnah, Juz 3/185)

✅3. Isrini Madiun Rinrin 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Hukumnya adalah diperbolehkan
( mubah ).
Diperbolehkan, maksudnya adalah halal berburu.

Allah berfirman :

وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا.

Apabila kalian telah bertahallul, silahkan berburu.
 (QS. Al-Maidah ayat 2)

Ibnu Qasim berkata :

 (ويجوز) أي يحل (الاصطياد) أي أكل المصاد (بكل جارحة معلمة من السباع) وفي بعض النسخ من سباع البهائم كالفهد والنمر والكلب (ومن جوارح الطير) كصقر وباز في أي موضع كان جرح السباع والطير. والجارحة مشتقة من الجرح وهو الكسب.

Berburu.
Diperbolehkan, maksudnya halal berburu, maksudnya memakan binatang yang diburu dengan setiap binatang buas yang telah terlatih.

Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa, “dari binatang buas pemburu binatang ternak”, seperti macan kumbang, macan tutul, dan anjing.

Dan burung-burung pemburu seperti burung elang dan rajawali, pada bagian manapun luka yang diakibatkan oleh binatang atau burung pemburu tersebut.

Al jarihah adalah lafadz yang tercetak dari lafadz “al jurh” yang bermakna berburu.
( Fathul Qarib, juz 2/377 )

💝 BAB : HUKUM NIKAH YANG DISEPAKATI ULAMA - (2)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
💝 BAB : HUKUM NIKAH YANG DISEPAKATI ULAMA - (2)

Sebelumnya 👇:
https://www.facebook.com/share/p/1FTKhoEJ6R/

🌿 Ibnul Mundzir al-Naisaburi berkata :

اتفق العلماء على أن الرجل إذا تزوج امرأة، فإنها تُحرم على أبيه وابنه، سواءً وطئها أم لا. وكذلك تُحرم على أجداده وأحفاده، من أبنائه وبناته، إلى الأبد.كما يُحرم ذريته، ذكورًا وإناثًا. في هاتين الآيتين، لم يذكر الله عبارة "بعد الجماع"، فحكم المحرم شرعًا يعود إلى العقد والملك، وحكم الرضيع كالمولود من النسب.اتفق العلماء على أن من اشترى أمة، ثم لمسها وقبلها، فإنها تُحرم على ابنها وأبيها.اتفق العلماء على أن من عقدت نكاحًا تُحرم على أبيها وولدها.اتفق العلماء على أن بيع الأمة لا يحرمها على أبيها وولدها (سيدهم).اتفق العلماء على أن من وطئ امرأة في نكاح فاشل، فإنها تحرم على أولاده وأبيه وجده وأحفاده.اتفق العلماء على عدم جواز نكاح أختين في عقد واحد.اتفق العلماء على جواز عقد البيع بين أمتين أختين.اتفق العلماء على عدم جواز وطء الأمتين الأختين، إلا ابن عباس، فقد جادل بأن كليهما جائز في القرآن ومحرم في القرآن. وهذا رأي عثمان وعلي رضي الله عنهما.
اتفق العلماء على عدم جواز تعدد الزوجات للمرأة مع خالاتها أو عماتها، أو مع قاصر وامرأة بالغة، أو مع امرأة بالغة وامرأة قاصرة.اتفق العلماء على أنه إذا طلق الرجل زوجته طلاقًا رجعيًا، فلا يجوز للزوج الزواج من أخت زوجته أو من زوجة رابعة حتى انقضاء عدتها.اتفق العلماء على أن المرأة إذا فقدت زوجها ولم يُعرف مكانه، فإنها تُنفق من ماله في عدتها بعد أربع سنوات وأربعة أشهر وعشرة أيام.اتفق العلماء على أن المرأة إذا فقدت زوجها ثم تزوجت وأنجبت ولدًا، فإن نسبه يكون مع زوجها، إلا النعمان، فإنه يرى أن نسبه يكون مع الزوج الأول لأنه صاحب الفراش.اتفق العلماء على أنه إذا كان الزوج أسيرًا، فلا تتزوج زوجته حتى تُعرف حقيقة وفاته ما دام مسلمًا.اتفق العلماء على أن المحرم هو كون لبن الإنسان من جنسه.اتفق العلماء على أنه إذا كانت هناك فتاة غير متزوجة تفرز اللبن وترضع طفلًا، فإن الطفل يصبح ولدًا له، طفلًا بلا أب لأنه رضع.اتفق العلماء على أنه إذا شرب طفلان لبنًا من الماشية، فلا يقال إنهما أختان من الرضاعة.اتفق العلماء على أن لبن الزوجة الأولى ينقطع عن الزوجة الثانية (لا ينطبق).

404. Para ulama bersepakat apabila seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka wanita (istri) itu haram bagi bapaknya, anaknya baik sudah ia menggaulinya atau belum. Demikian juga diharamkan bagi kakek-kakeknya, cucunya dari anak laki-lakinya atau perempuannya selama-lamanya. 

Diharamkan juga keturunannya baik dari anak laki maupun perempuan. Pada dua ayat tersebut Allah tidak menyebutkan kalimat "setelah melakukan hubungan suami-istri", maka status hukum haram itu karena akad dan kepemilikan dan hukum anak yang disusui sama dengan anak karena nasab.

405. Para ulama bersepakat apabila seseorang membeli budak wanita, lalu ia pegang dan dicium, maka budak itu diharamkan atas anak dan bapaknya.

406. Para ulama bersepakat bahwa seorang yang sudah melakukan akad nikah, maka ia diharamkan atas bapaknya dan anaknya.

407. Para ulama bersepakat bahwa akad jual-beli yang dilakukan oleh budak wanita, tidak menjadikannya haram atas bapak dan anaknya (majikan).

408. Para ulama bersepakat apabila seseorang menggauli wanita dalam pernikahan yang rusak, maka wanita itu diharamkan bagi anaknya, bapaknya, kakek dan cucu-cucunya.

409. Para ulama bersepakah tidak boleh menikah dengan dua orang wanita yang bersaudara dengan satu akad.

410. Para ulama bersepakat bahwa akad jual-beli yang dilakukan dua orang budak wanita bersaudara boleh hukumnya.

411. Para ulama bersepakat tidak boleh menggauli dua orang budak wanita yang bersaudara. Kecuali Ibnu Abbas yang berpendapat, keduanya dihalalkan oleh Al-Qur'an dan di-haramkan juga oleh Al-Qur'an. Dan inilah pendapat Utsman dan 'Ali Radhiyallahu 'Arhu.

412. Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh seorang wanita dipoligami dengan bibinya baik yang dari ayah maupun ibunya, dan juga wanita yang masih kecil dengan wanita yang sudah besar dan wanita yang sudah besar dengan yang masih kecil.

413. Para ulama bersepakat apabila seseorang menceraikan istrinya dengan talak raj'i (bisa rujuk) maka si suami tidak boleh menikah dengan saudari istri atau menikah dengan istri keempat sampai masa 'iddahnya habis.

414. Para ulama bersepakat apabila suami seseorang hilang tidak diketahui keberadaannya, maka ia dinafkahi dari harta suaminya selama masih 'iddah setelah empat tahun empat bulan sepuluh hari.

415. Para ulama bersepakat bahwa seorang istri kehilangan suaminya, lalu si istri menikah lagi dan melahirkan anak, maka nasab itu kepada yang suami yang dinikahinya. Kecuali An-Nu'man yang berpendapat, anak itu dinasabkan kepada suami yang pertama karena dia pemilik kasurnya (ayah biologisnya).

416. Para ulama bersepakat apabila seorang suami menjadi tawanan perang, maka istrinya tidak boleh dinikahi hingga diketahui dengan sebenar-sebenarnya kematian suaminya selama ia tetap menjadi seorang muslim.

417. Para ulama bersepakat bahwa yang diharamkan karena sesusuan sama dengan nasab.

418. Para ulama bersepakat apabila ada seorang gadis yang belum menikah, lalu ia mengeluarkan ASI dan menyusui seorang anak, maka anak itu menjadi anaknya, anak tanpa bapak karena disusuinya.

419. Para ulama bersepakat apabila dua orang bayi minum susu hewan ternak, maka ia tidak dikatakan saudara sesusuan.

420. Para ulama bersepakat bahwa ASI dari istri pertama terputus dari istri yang kedua (tidak berlaku).
(Al Ijma, juz 1/89-91)
@semua orang

Apakah shalat gerhana bulan sama seperti Shalat gerhana matahari ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP 
MENURUT 4 MADZHAB (782)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA : "Shalat gerhana bulan sama dengan shalat gerhana matahari"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Apakah shalat gerhana bulan sama seperti Shalat gerhana matahari ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sama.

Yaitu dilakukan dengan berjamaah. 
Menurut pendapat Syafi'i, bahwa shalat gerhana bulan dilakukan secara berjamaah sama seperti shalat gerhana matahari. 

Ibnu Rusyd berkata :

الْمَسْأَلَةُ الخَامِسَةُ وَاخْتَلَفُوا فِي كُسُوفِ الْقَمَرِ: فَذَهَبَ الشَّافِعِيُّ إِلَى أَنَّهُ يُصَلَّى لَهُ فِي جَمَاعَةٍ، وَعَلَى نَحْوِ مَا يُصَلَّى فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ، وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ وَدَاوُدُ وَجَمَاعَةٌ. وَذَهَبَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ إِلَى أَنَّهُ لَا يُصَلَّى لَهُ فِي جَمَاعَةٍ، وَاسْتَحَبّوا أَنْ يُصَلِّيَ النَّاسُ لَهُ أَفْذَاذًا رَكْعَتَيْنِ كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ النَّافِلَةِ.

Masalah kelima :
Shalat Gerhana Bulan. 
Para ulama berbeda pendapat tentang gerhana bulan. 
👉 Syafi'i berpendapat, shalat gerhana bulan dilakukan secara berjamaah seperti halnya shalat gerhana matahari. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ahmad, Daud dan Jamaah ulama. 

👉 Malik dan Abu Hanifah berpendapat shalat gerhana bulan tidak dilakukan secara berjamaah dan dianjurkan untuk dilakukan secara mandiri (sendiri-sendiri) sebanyak dua rakaat, seperti shalat nafilah lainnya. 
(Bidayatul Mujtahid, juz 1/224)

✅2. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut Syafi'i dan Hambali , shalat gerhana bulan sama seperti halnya gerhana matahari.

Wahbah Az Zuhaili berkata

قال الحنفية : تصلى صلاة الخسوف ركعتين أو أربعاً فرادى، كالنافلة، في المنازل.
وقال المالكية : يندب لخسوف القمر ركعتان جهراً كالنوافل بقيام وركوع فقط على العادة.
وقال الشافعية والحنابلة [4]: صلاة الخسوف كالكسوف، بجماعة، بركوعين وقيامين وقراءتين وسجدتين في كل ركعة، لكنها تؤدى جهراً لا سراً عند الشافعية، كما هو المقرر فيهما عند الحنابلة، لقول عائشة:
«إن النبي صلّى الله عليه وسلم جهر في صلاة الخسوف بقراءته، فصلى أربع ركعات في ركعتين، وأربع سجدات»

Hanafi mengatakan, shalat gerhana bulan boleh dilakukan dengan dua rakaat atau empat dengan sendiri-sendiri, seperti shalat sunnah lainnya, dan di rumah.

Maliki berpendapat, dianjurkan untuk shalat gerhana bulan dua rakaat dengan suara keras seperti shalat sunnah dengan satu diri dan ruku saja seperti biasanya.

Adapun Syafi'i dan Hambali berpendapat, shalat gerhana bulan seperti halnya gerhana matahari, dengan berjamaah, dua ruku, dua diri, dua kali bacaan, dan dua sujud dalam setiap rakaatnya. Kemudian, dilakukan dengan suara keras tidak pelan menurut Syafi'i, seperti itu juga ditetapkan oleh Hambali. Berdasarkan perkataan Aisyah r.a

"Nabi ﷺ mengeraskan suaranya ketika melakukan shalat gerhana bulan. Beliau melakukan empat ruku dalam dua rakaat, juga empat sujud."
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz II/409)

✅3. Isrini Madiun Rinrin 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.  

Sama.
Shalat Gerhana Bulan cara melakukannya adalah sama seperti Shalat Gerhana Matahari.

Ibnu Qasim mengatakan :

(فصل): وصلاة الكسوف للشمس وصلاة الخسوف للقمر كل منهما (سنة مؤكدة فإن فاتت) هذه الصلاة (لم تقض) أي لم يشرع
قضاؤها(ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين) يحرم بنية صلاة الكسوف، ثم بعد الافتتاح والتعوّذ يقرأ الفاتحة، ويركع ثم يرفع رأسه من الركوع، ثم يعتدل ثم يقرأ الفاتحة ثانياً، ثم يركع ثانياً أخف من الذي قبله، ثم يعتدل ثانياً ثم يسجد السجدتين بطمأنينة في الكل، ثم يصلي ركعة ثانية بقيامين وقراءتين وركوعين، واعتدالين وسجودين وهذا معنى قوله (في كل ركعة) منهما (قيامان يطيل القراءة فيهما) كما سيأتي.(و) في كل ركعة (ركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود) فلا يطوله، وهذا أحد وجهين، لكن الصحيح أنه يطوله نحو الركوع الذي قبله(ويخطب) الإمام (بعدهما) أي بعد صلاة الكسوف والخسوف (خطبتين) كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط، ويحث الناس في الخطبتين على التوبة من الذنوب، وعلى فعل الخير من صدقة وعتق ونحو ذلك (ويسرّ) بالقراءة (في كسوف الشمس ويجهر) بالقراءة (في خسوف القمر) وتفوت صلاة كسوف الشمس بالانجلاء للمنكسف وبغروبها كاسفة، وتفوت صلاة خسوف القمر بالانجلاء وطلوع الشمس لا بطلوع الفجر ولا بغروبه خاسفاً فلا تفوت الصلاة.

(Fasal) sholat gerhana matahari dan sholat gerhana rembulan, masing-masing dari keduanya hukumnya adalah sunnah muakkad.

Jika sholat ini telah ditinggalkan, maka tidak diqadla’, maksudnya tidak disyariatkan untuk mengqadla’nya.

Sunnah melakukan sholat dua rakaat karena gerhana matahari dan gerhana rembulan.

Yaitu :
- Melakukan takbiratul ihram dengan niat sholat gerhana. 
- Kemudian setelah membaca doa iftitah dan ta’awudz, 
- Membaca surat Al Fatihah, 
- Ruku’, 
- Kemudian mengangkat kepala dari ruku’, 
- Lalu i’tidal, 
- Membaca surat Al Fatihah yang kedua,
- Kemudian ruku’ kedua yang lebih cepat daripada ruku’ sebelumnya, 
- Lalu i’tidal kedua, 
- Kemudian sujud dua kali dengan melakukan thuma’ninah di masing-masing dari keduanya. - - Kemudian melakukan rakaat yang kedua dengan dua kali berdiri, dua kali bacaan Al Fatihah, dua ruku’, dua i’tidal dan dua kali sujud.

Dan ini adalah makna dari perkataan mushannif, “di masing-masing rakaat dari kedua rakaat tersebut terdapat dua kali berdiri dengan memanjangkan bacaan di keduanya seperti keterangan yang akan datang.

Dan di masing-masing rakaat terdapat dua kali ruku’ dengan memanjangkan bacaan tasbihnya tidak saat melakukan sujud, maka ia tidak memanjangkan bacaan tasbih sujudnya. Ini adalah salah satu dari dua pendapat. 

Akan tetapi menurut pendapat yang shahih, bahwa sesungguhnya ia dianjurkan memanjangkan bacaan tasbih sujudnya seukuran panjangnya bacaan tasbih ruku’ sebelumnya.

Khutbah Gerhana

Setelah sholat gerhana matahari dan rembulan, seorang imam dianjurkan melakukan khutbah dua kali seperti dua khutbah sholat Jum’at di dalam rukun-rukun dan syarat-syaratnya.

Di dalam kedua khutbahnya, ia mendorong manusia agar bertaubat dari segala dosa-dosa dan melakukan kebaikan berupa sedekah, memerdekakan budak dan sesamanya.

Seorang imam sunnah memelankan bacaannya saat sholat gerhana matahari, dan
Mengeraskan bacaan saat sholat gerhana bulan.

Waktu pelaksanaan sholat gerhana matahari telah habis sebab gerhana telah selesai (matahari kembali seperti semula) dan sebab matahari terbenam dalam keadaan gerhana.

Dan waktu pelaksanaan sholat gerhana rembulan telah habis sebab rembulan telah kembali normal dan sebab terbitnya matahari, tidak sebab terbitnya fajar dan tidak sebab rembulan terbenam dalam keadaan gerhana, maka waktu pelaksanaannya belum habis.
( Fathul Qarib, juz 1/ 252 )
@sorotan

💖 BAB : HUKUM NIKAH YANG DISEPAKATI ULAMA - (1)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
💖 BAB : HUKUM NIKAH YANG DISEPAKATI ULAMA - (1)

🌿 Ibnul Mundzir al-Naisaburi berkata :

اتفق العلماء على أنه لا يجوز للأب أن يتزوج ابنته الأرملة إلا برضاها. اتفق العلماء على جواز تزويج الأب لابنته الصغيرة من رجل مساوي لها في السن.اتفق العلماء على جواز تزويج الأب لابنه القاصر.اتفق العلماء على أنه لا يجوز للأب الكافر أن يكون وليًا لابنته المسلمة.اتفق العلماء على جواز منع الزوجة زوجها من الوطء حتى يعطيها مهرها.اتفق العلماء على أن للحاكم حق الزواج من المرأة إذا تزوجت من رجل مساوي لها، ولم يرغب وليها في الزواج منها.اتفق العلماء على أنه إذا تزوج فارسي غير عربي أمة وأنجب منها ولدًا، فإن أولاده يكونون في حكم العبيد.اتفق العلماء على أنه إذا عتقت أمة وهي متزوجة من عبد، فلها حق الاختيار. اتفق العلماء على أن أحكام قطع خصيتي الرجل في ستر عورته أثناء الصلاة والإمامة، ولباس الإحرام، ونصيبه من الميراث، ومقدار نصيبه من الغنائم، هي أحكام الرجل. اتفق العلماء على أنه إذا تزوج الرجل مقطوع خصيتيه بامرأة دون علمها، ثم علم، فلها حق الاختيار. اتفق العلماء على أن الرجل إذا عقد نكاحًا، لا يصبح مشنوقًا إلا بعد أن يجامع زوجته.اتفق العلماء على أنه إذا شهد الزوجان على وقوع الجماع بينهما، يُسمى كلاهما محششًا.اتفق العلماء على أنه إذا خان أحدٌ زوجته وعاشرها مدةً، مات الزوج أو الزوجة. فلا يُحكم على أحدهما الذي لا يزال على الزنا بالرجم حتى يُقرّ بوقوعه.اتفق العلماء على حرمة زواج الرجل من أمه. اتفق العلماء على أنه إذا تزوج الرجل ثم طلق زوجته، أو ماتت قبله، جاز له الزواج من ابنة زوجته إذا كانت بينهما علاقة.وروي عن علي بن أبي طالب أنه خالف هذه الآراء، كأنه يُرخص إذا لم تكن زوجته وأولاده تحت وصايته، وكانوا في مكان آخر.

389. Para ulama bersepakat tidak boleh hukumnya seorang bapak menikahkan anaknya yang janda tanpa persetujuannya.

390. Para ulama bersepakat boleh hukumnya bagi seorang bapak menikahkan anak gadisnya yang masih kecil dengan laki-laki yang setaraf.

391. Para ulama bersepakat boleh bagi seorang bapak menikahkan anak laki-lakinya yang masih kecil.

392. Para ulama bersepakat tidak boleh hukumnya bagi seorang bapak yang kafir untuk menjadi wali bagi anak perempuannya yang muslimah.

393. Para ulama bersepakat boleh hukumnya bagi seorang istri melarang (menolak) suaminya dari menggaulinya sampai ia memberikan maharnya.

394. Para ulama bersepakat bahwa penguasa berhak menikahkan seorang wanita jika ia menikah dengan laki-laki yang sekufu (setara) namun walinya tidak mau menikahkannya.

395. Para ulama bersepakat apabila orang persia non-Arab menikah dengan budak wanita, lalu mempunyai anak, maka anak-anaknya berstatus budak.

396. Para ulama bersepakat apabila budak wanita dimerdekakan sedangkan ia bersuamikan seorang budak, maka ia berhak menentukan pilihannya.

397. Para ulama bersepakat bahwa hukum-hukum yang berkaitan dengan laki-laki yang terpotong zakarnya dalam masalah menutup aurat dalam shalat dan menjadi imam, apa-apa yang dipakai ketika berihram, bagian warisan dan berapa sahamnya dari harta rampasan perang sama hukumnya dengan laki-laki.

398. Para ulama bersepakat apabila laki-laki yang terpotong zakarnya menikah dengan seorang wanita tanpa sepengetahuan wanita, kemudian ia mengetahui, maka pihak wanita berhak menentukan pilihan.

399. Para ulama bersepakat apabila seorang laki-laki melangsungkan akad nikah, maka ia tidak langsung menjadi mushan (dianggap menikah) hingga ia bersenggama dengan istrinya.

400. Para ulama bersepakat apabila pasangan suami istri mendatangkan saksi atas ketetapan keduanya sudah melakukan senggama, maka keduanya disebut muhshan.

401. Para ulama bersepakat apabila seseorang telah menggauli istrinya dan tinggal serumah beberapa waktu, kemudian si suami atau istri wafat. Lalu salah satu di antara kedua yang masih hidup berzina, ia tidak dihukum rajam sampai ia mengaku telah melakukan senggama dengan istrinya.

402. Para ulama bersepakat haram hukumnya bagi seseorang menikah dengan ibunya.

403. Para ulama bersepakat apabila seseorang menikah lalu ia menceraikan istrinya, atau istrinya wafat sebelum berhubungan suami-istri, maka halal baginya menikah dengan anak perempuan istrinya.Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib pendapat berbeda dengan semua pendapat tersebut seakan-akan ia memberikan dispensasi apabila si anak istri tidak dibawah didikannya dan berada di tempat lain.
(Al Ijma, juz 1/86-87)
@semua orang

BAB : HUKUM WASIAT YANG DISEPAKATI ULAMA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
📜 BAB : HUKUM WASIAT YANG DISEPAKATI ULAMA

🌿 Ibnul Mundzir al-Naisaburi berkata :

اتفق العلماء على جواز الوصية إذا كانت للأبوين أو للأقارب الذين لا يرثون.اتفق العلماء على أنه لا وصية لوارث إلا بموافقة جميع الورثة.اتفق العلماء على أن الوصية لا تزيد على ثلث التركة.اتفق العلماء على أن الميراث من جهة الأب لا من جهة الأم.اتفق العلماء على أنه إذا أوصى شخص لشخص آخر بثلث ماله، ثم هلك ذلك المال، فإن المال المفقود يُحسب من الميراث، ويأخذ الوارث ذلك الثلث.اتفق العلماء على أنه إذا أوصى شخصٌ ما لشخصٍ آخر، ثم هلك المال، فلا يرث ذلك الشخص مالًا بديلًا من ميراث المتوفى. تفق العلماء على أن من أوصى ببستان نخيله، أو شغل منزله، واستعان بخادمه، فإن ذلك كله يكون ثلث الميراث أو أكثر.اتفق العلماء على أنه إذا كتب الشخص وصيةً في ورقة، ثم قرأها أمام شهود، وصدق عليها، فإن الشهادة في هذا الأمر جائز.اتفق العلماء على أن من أوصى بمنح مال لورثته، أو أقر بديون وهو في صحة، ثم صححها، فإنه لا يصحح وصيته إلا أنه لا يصحح إقراره بقضائه. اتفق العلماء على جواز أن يُحدد الشخص دينه على غيره بقدر ما يملك، سواءٌ أوصى به في مرضه ثم مات.أما إذا أوصى بالتبرع بجميع أمواله ثم مت، فلا يتبرع إلا بثلثها، ولا يزيد على ذلك.اتفق العلماء على جواز دية المريض لغير الوارث، إذا لم تكن عليه ديون في صحته.اتفق العلماء على جواز الوصية للمسلم الحر الأمين العادل.اتفق العلماء على جواز وصية الأحرار البالغين من الرجال والنساء ممن تولوا الولاية.اتفق العلماء على جواز وصية الكافر الذمي للمسلم إذا كان مما يجوز تملكه. اتفق العلماء على أنه إذا أوصى أحدٌ لآخرٍ بهبة أمته، فباع ذلك الشخصُ المالَ الذي أُنفق أو وهبَهُ أو تصدّق به، فله أن يُصلحه أو يسترده.اتفق العلماء على جواز تصحيح أو إبطال كل ما أوصى به إلا عتق العبيد.اتفق العلماء على أن من كان أمينًا وأمينًا، فإن أخذ المال من يده حرام.اتفق العلماء على أن الأب راعٍ لمال ولده الصغير، وهو لمصلحته، إذا كان أمينًا وأمينًا. وإذا كان كذلك، فلا يجوز للقاضي تحريمه.

371. Para ulama bersepakat bahwa boleh hukumnya berwasiat (memberikan sebagian harta) jika diperuntukkan bagi kedua orangtua, kerabat yang tidak mendapatkan warisan darinya.

372. Para ulama bersepakat bahwa tidak ada wasiat bagi ahli waris kecuali kalau diizinkan oleh semua ahli waris.

373. Para ulama bersepakat bahwa wasiat harta itu maksimal ⅓ dari hartanya.

374. Para ulama bersepakat bahwa ashabah itu dari pihak bapak dan bukan dari pihak ibu.

375. Para ulama bersepakat apabila seorang mewasiatkan kepada orang lain untuk mengambil ⅓ hartanya, lalu sebagian hartanya habis/hilang, maka harta yang hilang dihitung dari harta warisan dan orang yang menerima wasiat ⅓ itu.

376. Para ulama bersepakat apabila seseorang mewasiatkan harta tertentu kepada orang lain, lalu harta itu hilang, maka orang itu tidak mendapatkan harta pengganti dari harta warisan si mayit.

377. Para ulama bersepakat apabila ada seseorang berwasiat untuk menginfakkan kebun kurmanya, atau menempati rumahnya, dibantu budaknya, semua itu apakah sudah mencapai ⅓ harta warisan atau lebih.

378. Para ulama bersepakat apabila seorang yang menuliskan wasiat dalam sebuah catatan, lalu dibacakan dihadapan para saksi dengan menegaskan kebenaran apa yang tertulis, maka kesaksian dalam masalah ini hukumnya boleh.

379. Para ulama bersepakat apabila seseorang memberikan wasiat memberikan harta kepada ahli warisnya, atau pernah mengakui memiliki utang pada saat masih sehat. Kemudian ia meralatnya, ia hanya boleh meralat wasiatnya namun tidak bisa meralat pengakuan ketetapannya.

380. Para ulama bersepakat boleh hukumnya bagi seseorang menetapkan bahwa ia memiliki utang kepada orang lain sebanyak harta yang dimiliki baik hal itu ditetapkan saat sakit lalu ia meninggal. 

Namun jika mewasiatkan untuk menginfakkan semua hartanya kemudian ia wafat, maka yang diinfakkan hanya ⅓ hartanya saja dan tidak boleh lebih dari itu.

381. Para ulama bersepakat pengakuan seorang yang sedang sakit
bahwa memiliki utang kepada non ahli warisnya hukumnya boleh, apabila ia tidak memiliki utang semasa sehatnya.

382. Para ulama bersepakat bahwa wasiat kepada seorang muslim, merdeka, dipercaya dan adil (takwa) boleh hukumnya.

383. Para ulama bersepakat bahwa wasiat laki-laki dan perempuan merdeka yang sudah baligh yang sudah mendapatkan kewenangan boleh hukumnya.

384. Para ulama bersepakat boleh hukumnya seorang kafir dzimmi berwasiat memberikan sesuatu kepada seorang muslim apabila hal itu berupa barang yang boleh dimiliki.

385. Para ulama bersepakat bahwa jika ada seseorang mewasiatkan kepada orang lain memberikan budak wanitanya, lalu orang itu menjual atau harta yang kemudian dihabiskan atau menghibahkan atau mensedekahkan, pada semua yang tersebut itu ia boleh meralat atau mengambilnya kembali.

386. Para ulama bersepakat bahwa seseorang boleh hukumnya meralat atau membatalkan semua yang pernah ia wasiatkan kecuali memerdekakan budak.

387. Para ulama bersepakat apabila seorang yang memberi dipercaya dan jujur, maka merampas harta dari tangannya hukumnya haram.

388. Para ulama bersepakat bahwa bapak adalah orang mengurusi harta anaknya yang masih kecil dan demi kebaikannya, apabila si bapak orang yang bisa dipercaya dan jujur. Jika demikian tidak boleh bagi seorang hakim untuk melarangnya.
(Al Ijma, juz 1/83-85)
@semua orang

Apakah keluarnya darah dari kemaluan wanita hamil bisa disebut haidh ya sahabatku ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (781)
By : Perpustakaan Hadits

🎊 TEMA : MENSTRUASI DISAAT HAMIL

🎊 PERTANYAAN :

Fortuna Rini Dewi 

Apakah keluarnya darah dari kemaluan wanita hamil bisa disebut haidh ya sahabatku ?

🎊 DIJAWAB OLEH :

👉 Senja 

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Benar
Seorang wanita hamil bisa mengalami haid, apabila wanita hamil melihat darah yang mencapai durasi minimal haid. 

Abdurrahman bin Abdullah as seqqaff berkata :

خامسا : الدَّمُ الَّذي تراه الحامل إِذا رَأَتِ الحَامِلُ دَمًا يَصْلُحُ أن يكون حيضًا - بأن بَلَغَ يومًا وليلة - فالأَظْهَرُ مِن أقوال إمامنا الشافعي - رضي الله عنه -: أَنه حَيْضُ؛ لِعُمُومِ الأَدِلَّةِ فِي اعْتِبَارِه دَمَ حَيْضِ : كقوله تعالى : قُلْ هُوَ أَذًى ﴾ [البقرة : ۲۲۲]، وقوله عليه السَّلامُ : «إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ أَسْوَدُ يُعْرَفُ 

 5 . Darah yang keluar dari wanita hamil

Apabila wanita hamil melihat darah yang mencapai durasi minimal haid, maka menurut riwayat yang paling kuat dari imam syafi'i, darah tersebut adalah haid, berdasarkan keumuman teks dalil haid, seperti pada QS. Al Baqarah: 222 
" Katakanlah ia adalah kotoran".

Dan keumuman sabda nabi

" Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang diketahui "
(Al Ibanah wal ifadhah hal. 20)

👉 Rina Leriyani II 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Para ulama berbeda pendapat apabila seorang wanita hamil, apabila dia mengeluarkan darah , 

👉 Sebagian ulama mengatakan wanita hamil masih saja mungkin terjadi haidh.
👉 Sebagian ulama yang lain mengatakan tidak bisa haidh dan itu hanyalah Istihadhah

Rosulullah bersabda:

 إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا يَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ وَالْأَجَلُ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

Sesungguhnya Allah Ta'ala menugaskan satu malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata:
Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. 
Ya Rabb, segumpal darah!, 
Ya Rabb, segumpal daging! ' 

Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, malaikat itu bertanya, 'Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rezeki dan ajalnya?
Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya."
(HR Bukhari nomor 318)

Alhafidz Ibnu hajar menjelaskan:

وقال ابن بطال : غرض البخاري بإدخال هذا الحديث في أبواب الحيض تقوية مذهب من يقول إن الحامل لا تحيض ، وهو قول الكوفيين وأحمد وأبي ثور وابن المنذر وطائفة ، وإليه ذهب الشافعي في القديم ، وقال في الجديد : إنها تحيض ، وبه قال إسحاق ، وعن مالك روايتان . قلت : وفي الاستدلال بالحديث المذكور على أنها لا تحيض نظر ; لأنه لا يلزم من كون ما يخرج من الحامل هو السقط الذي لم يصور أن لا يكون الدم الذي تراه المرأة التي يستمر حملها ليس بحيض . وما ادعاه المخالف من أنه رشح من الولد أو من فضلة غذائه أو دم فساد لعلة فمحتاج إلى دليل . وما ورد في ذلك من خبر أو أثر لا يثبت ; لأن هذا دم بصفات دم الحيض وفي زمن إمكانه فله حكم دم الحيض ، فمن ادعى خلافه فعليه البيان .وأقوى حججهم أن استبراء الأمة اعتبر بالمحيض لتحقق براءة الرحم من الحمل ، فلو كانت الحامل تحيض لم تتم البراءة بالحيض

Ibnu Baththal berkata:
Maksud Imam Bukhari memasukkan hadits ini di antara bab-bab tentang haid, adalah untuk menguatkan pandangan
mereka yang mengatakan bahwa wanita yang hamil itu tidak mengalami
haid. Ini adalah pendapat ulama Kufah, Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir serta sejumlah ulama yang lain. Demikian pula pendapat qoul qodim Imam Syafii. 

Adapun pendapat qoul Jadid imam Syafi'i menyatakan, bahwa wanita hamil bisa saja mengalami haid. Pendapat ini dikemukakan pula oleh Ishaq. 
Sementara itu dari Imam Malik dinukil kedua pendapat di atas sekaligus."

Aku (Ibnu Hajar) berkata:
Berdalil dengan hadits tersebut di atas
untuk menyatakan wanita hamil tidak mengalami haid masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, sebab adanya darah yang keluar dari wanita hamil saat terjadi keguguran tidaklah berkonsekuensi bahwa darah yang keluar dari wanita hamil bukan dengan sebab keguguran, tidak dianggap sebagai haid. 

Sedangkan pernyataan mereka bahwa darah yang keluar dari wanita hamil hanyalah cairan yang keluar dari janin atau sisa makanannya maupun darah yang rusak, masih dibutuhkan dalil yang
mendukungnya. Adapun riwayat yang disandarkan kepada nabi maupun
para sahabat dan tabi'in mengenai hal itu semuanya tidak dapat dibuktikan keotentikannya. Sebab darah yang keluar dari wanita hamil memiliki sifat darah haid dan pada waktu yang memungkinkan darah haid keluar, maka hukumnya sama dengan darah haid. Barangsiapa yang berpendapat bahwa darah itu bukanlah darah haid, maka ia harus mengemukakan alasan. 

Adapun dalil mereka yang terkuat adalah;
sesungguhnya dengan dijadikannya haid sebagai pedoman untuk mengetahui apakah rahim wanita kosong dari janin atau tidak, sungguh hal itu merupakan keterangan paling kuat untuk menyatakan, bahwa wanita hamil tidak mengalami haid. Sebab jika wanita hamil juga mengalami haid, tentu keluarnya darah haid tidak dapat dijadikan
pedoman untuk mengetahui kosongnya rahim dari janin.
(Fathul bari Syarah Shahih Bukhari I /499)
@semua orang

Jika seseorang wanita yang haidh, kemudian masih nampak dalam pembalutnya warna kekuningan, apakah ia sudah diperbolehkan mandi dan shalat ya sahabatku ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (780)
By : Perpustakaan Hadits

🏆 TEMA : HUKUM WARNA DARAH YANG KEKUNINGAN

🏆 PERTANYAAN : 

Fortuna Rini Dewi 

Jika seseorang wanita yang haidh, kemudian masih nampak dalam pembalutnya warna kekuningan, apakah ia sudah diperbolehkan mandi dan shalat ya sahabatku ?

🏆 DIJAWAB OLEH :

👉 Senja 

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh   

Tunggulah sampai pembalut tersebut benar-benar putih, kemudian mandi dan shalatlah. Sebab sekalipun darah tersebut berwarna putih kekuning kuningan itu masih termasuk salah satu sifat darah haid .  

Abdurrahman bin Abdullah as seqqaff berkata :

    رابعا : صِفَةُ دَمِ الْخَيْضِ دَمُ الحَيْضِ يأتي بعدة صفات، وهي : ١- السواد، ٢-والحُمْرةُ، ٣- الشَّقْرَةُ ٤ - والصُّفْرَةُ، ٥- والكُدْرَةُ، وهي ما بين الأَصْفَرِ والأبيض، وقد يكون الدَّمُ ثخينا، وقد يكون نَتِنا. إِذا عَرَفْ مَا تَقَدَّمَ فَاعْلَمْ : أَنَّ الْأَصَحَ مِن أقوالِ أَئِمَّتِنا الشافعية : أنّ الكُدْرَةَ والصُّفْرَةَ حيض؛ لما روى البخاري أن النِّسَاءَ كُنَّ يَبْعَثْنَ لِلسَّيِّدَةِ عَائِشَة - رضي الله عنها - بالدرجة فيها الكُرْسُفُ فيه الصُّفْرَةُ - فتقول : لا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةُ البَيْضَاءَ» .    

4. Sifat sifat darah haid*

Darah haid miliki beberapa warna : hitam, merah, pirang, kuning dan keruh ( putih kekuning kuningan). Darah yang keluar bisa jadi kental, bisa jadi encer.

Para ulama syafi'i ah menetapkan bahwa cairan kuning dan keruh juga dihitung haid berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh imama Bukhari, 
Bahwa para wanita bertanya kepada siti aisyah tentang pembalut yang masih berwarna kuning. Kemudian beliau berkata: 
 
لا تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةُ البَيْضَاءَ» .     

Artinya: jangan terburu buru ( mandi dan shalat) sebelum kalian melihat pembalut ini benar benar putih. 
( HR. Bukhari 1/71.) 
(Al Ibanah wal ifadhah hal. 24-25)

👉 Rina Leriyani II 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Selama dimasa haidh maka darah kekuning kuningan masih haidh, jadi belum boleh shalat.

Wahbah Az Zuhaili berkata

ويرى الشافعية والحنابلة: أن أقل زمن الحيض يوم وليلة: وهو أربع وعشرون ساعة، على الاتصال المعتاد في الحيض، بحيث لو وضعت قطنة لتلوثت، فلا يشترط نزوله بشدة دائماً حتى يوجد الاتصال. وعلى هذا فقد يتصل في الظاهر أو ينقطع في الظاهر، ولكنه موجود في الواقع، ويعرف بتلوث قطنة أو نحوها، فإن رأت الدم أقل من يوم وليلة، فهو دم استحاضة، لا دم حيض.
---
وأكثره: خمسة عشر يوماً بلياليها، فإن زاد عليها فهو استحاضة.

Ulama Syafi'i dan Hambali berpendapat, bahwa masa haid sekurang-kurangnya ialah satu hari satu malam, yaitu dua puluh empat jam dan darah tersebut keluar terus-menerus menurut kebiasaan. Yaitu kira-kira jika diletakkan kapas, maka kapas tersebut akan kotor dengan darah. Kuatnya darah haid yang keluar secara berterusan tidaklah menjadi syarat. Berdasarkan pendapat ini, maka darah haid tersebut pada zahirnya keluar secara terus-menerus, meskipun pada saat-saat tertentu berhenti. Tetapi, pada kenyataannya darah haid itu kewujudannya memang ada. 

Ada atau tidaknya darah haid dapat diketahui dengan memasukkan kapas atau semacamnya ke dalam kelamin perempuan dan didapati ia berlumuran darah. Jika seorang wanita itu melihat darah kurang dari satu hari satu malam, maka itu adalah darah istihadhah, bukan darah haid.
---
Adapun masa haid, paling banyak adalah lima belas hari-lima belas malam. Jika darah itu keluar melebihi dari lima belas hari, maka itu adalah darah istihadhah
(Alfiqhul islam wa adilatuhu)
@semua orang

Batuk terus menerus dan sampai mengeluarkan air kencing/kentut, apakah harus wudhu berturut-turut?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (777)
By : Perpustakaan Hadits

🧚 TEMA : HUKUM TENTANG WUDHU DAN SHALAT ORANG YANG UZUR

🧚 PERTANYAAN : 

Ana al faqir 

Batuk terus menerus dan sampai mengeluarkan air kencing/kentut, apakah harus wudhu berturut-turut?

🧚 DIJAWAB OLEH :

👉 Rina Leriyani II 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Tidak perlu wudhu terus terusan, cukup 1x tapi sebelum wudhu hendaknya terlebih dahulu dibersihkan , Setelah dicuci bersih lalu kemaluannya disumpal dengan kain dan diikat dengan rapi supaya tidak ada yang menetes keluar ketika selesai wudhu dan ketika shalat, Setelah rapi , lalu segera wudhu langsung shalat , tidak boleh ada jeda misal minum , mengobrol dan lainnya,

Wahbah Az Zuhaili berkata

وأحكام وضوء المعذور وصلاته تحتاج لتفصيل بين المذاهب.
---
مذهب الشافعية : صاحب السلَس الدائم من بول أو مذي أو غائط أو ريح، والمستحاضة، يغسل الفرج ثم يحشوه إلا إذا كان صائماً، أو تأذت المستحاضة به، فأحرقها الدم فلا يلزم الحشو حينئذ، ثم يعصِب. وكيفية العصب للمستحاضة مثلاً: أن تشد فرجها بعد غسله بخرقة مشقوقة الطرفين، تخرج أحدهما من أمامها، والآخر من خلفها، وتربطهما بخرقة تشدها على وسطها كالتكة.ثم يتوضأ أو يتيمم عقب ذلك فوراً، أي أنه تجب الموالاة بين الأفعال من عصب ووضوء، يفعل كل ذلك فوراً، أي أنه تجب الموالاة بين الأفعال من عصب ووضوء، يفعل كل ذلك بعد دخول وقت الصلاة، لأنه طهارة ضرورة، فلا تصح قبل الوقت كالتيمم. ثم يبادر وجوباً إلى الصلاة تقليلاً للحدث، فلو أخر لمصلحة الصلاة كستر العورة، وأذان وإقامة، وانتظار جماعة، واجتهاد في قبلةوذهاب إلى مسجد، وتحصيل سترة، لم يضر، لأنه لا يعد بذلك مقصراً، وإلا كأن أخر لا لمصلحة الصلاة كأكل وشرب وغزل وحديث، فيضر التأخير على الصحيح، فيبطل الوضوء، وتجب إعادته وإعادة الاحتياط لتكرر الحدث والنجس مع إمكان الاستغناء عنه.

Hukum hukum yang berkaitan dengan wudhu dan shalat orang Yang uzur, memerlukan penjelasan dari berbagai pendapat madzhab.
---
Madzhab Syafi'i

Orang yang mengidap penyakit as-salas yang berterusan seperti air kencing, madzi, najis atau angin, serta perempuan yang terkena istihadhah hendaklah membersihkan kemaluan kemudian menutupnya (dengan cara memasukkan sesuatu ke dalamnya). Akan tetapi jika dia sedang berpuasa atau tindakan tersebut menyakitkan perempuan yang beristihddah dan menyebabkan dia merasakan pedih karena tekanan darah, maka pada saat itu dia tidak wajib menyumbat atau mengikat. 

Cara perempuan yang ber-istihadhah menutup serta mengikat kemaluannya adalah dengan menempelkan sesuatu pada vagina secara rapi. Yaitu, dengan menggunakan sehelai kain yang memiliki dua ujung yang bercabang, salah satu ujung tersebut ditarik ke depan dan ujung yang satu lagi ditarik ke belakang. Kedua-duanya kemudian diikat dengan kain yang lain di pinggang seperti posisi ikat pinggang celana. 

Setelah itu, dia berwudhu atau bertayamum dengan segera, yaitu wajib berurutan antara mengikat vagina dengan amalan berwudhu. Ia dilakukan setiap waktu shalat telah masuk. Hal ini karena dia ditetapkan sebagai orang yang dihukumi dalam keadaan suci karena keadaan darurat. Oleh sebab itu, tidak sah jika dilakukan sebelum waktu shalat masuk, kedudukan adalah sama seperti tayamum. 

Kemudian dia wajib melakukan shalat secara bersegera untuk memendekkan masa hadats. Jika ia mengakhirkan shalat karena ada kepentingan diri atau karena kepentingan yang berkaitan dengan shalat seperti menutup aurat, adzan dan iqamah, menunggu jamaah, berijtihad mencari arah qiblat, berjalan ke masjid dan mendapat halangan, maka wudhunya tidak rusak (tidak batal). Hal ini karena perkara tersebut tidak dihitung sebagai sesuatu yang telah memperlambat shalat. 

Akan tetapi jika tidak seperti dia memperlambat shalat bukan karena sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan shalat, seperti karena makan, minum, menjahit, dan berbicara, maka menurut pendapat yang ashah, kelewatan tersebut membahayakan wudhunya dan ia menjadi batal. Oleh sebab itu, dia wajib mengulangi wudhu dan juga mengulangi untuk menjaga salas-nya karena hadats dan najis yang berulang-ulang sedangkan dia mampu menghindarkannya.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz I/293)

👉 Vitha Finalia  

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Tidak perlu wudhu secara terus-terusan, hal ini sama seperti orang yang sedang istihadhah atau selalu mengeluarkan madzi bagi pria, maka solusinya ketika hendak wudhu adalah dengan membersihkan kemaluan terlebih dahulu kemudian menutup jalan keluar kencing, dan ketika melakukan shalat adalah sambil duduk untuk menjaga agar tetap suci dan tidak perlu mengulang shalatnya. 

Musthafa Dib al-Bugha berkata :

فالمستحاضة تغسل الدم، وتربط على موضعه، وتتوضأ لكل فرض، وتصلي.

"Perempuan yang mengalami istihadhah membersihkan dahulu darahnya, kemudian membalut/menutup jalan keluar darah, dan berwudhu setiap kali hendak shalat fardhu."
(Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab al Imam Asy-Syafi'i, juz 1/75) 

Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan'ani berkata :

وَعَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ أَبِي حُبَيْشٍ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي وَاللهِ مَا أَطْهَرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ أَبَدًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ ; وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ ; فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ , وَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا , فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي .(متفق علیه)
---
أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ أَبِي حُبَيْشٍ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي وَاللهِ مَا أَطْهَرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ أَبَدًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ ; وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ ; فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ , وَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا , فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي . وَفِي فَتْحِ الْبَارِي: أَنَّ هَذَا الْعِرْقَ يُسَمَّى الْعَاذِلَ بِعَيْنٍ مُهْمَلَةٍ وَذَالٍ مُعْجَمَةٍ، وَيُقَالُ عَاذِرٌ بِالرَّاءِ بَدَلًا عَنْ اللَّامِ، كَمَا فِي الْقَامُوسِ [وَلَيْسَ بِحَيْضٍ]
---
الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى وُقُوعِ الِاسْتِحَاضَةِ، وَعَلَى أَنَّ لَهَا حُكْمًا يُخَالِفُ حُكْمَ الْحَيْضِ، وَقَدْ بَيَّنَهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَكْمَلَ بَيَانٍ، فَإِنَّهُ أَفْتَاهَا بِأَنَّهَا لَا تَدَعُ الصَّلَاةَ مَعَ جَرَيَانِ الدَّمِ، وَبِأَنَّهَا تَنْتَظِرُ وَقْتَ إقْبَالِ حَيْضَتِهَا فَتَتْرُكُ الصَّلَاةَ فِيهَا، وَإِذَا أَدْبَرَتْ غَسَلَتْ الدَّمَ وَاغْتَسَلَتْ،
---
وَعَنْ «عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: كُنْت رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْت الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: فِيهِ الْوُضُوءُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَلِلْبُخَارِيِّ: أَيْ حَدِيثُ " هَذَا زِيَادَةٌ [ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ] وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدًا؛

Aisyah ra berkata :
 "Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Rasulullah ﷺ dalam Keadaan Istihadhah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat Selamanya ?" Rasulullah ﷺ lalu menjawab, "Jangan, Itu hanyalah peluh bukan haid. Maka, jika haidmu datang, tinggalkan shalat, dan jika telah berlalu maka cucilah darahmu, kemudian shalatlah."
(Muttafaq Alaihi )
---
Penjelasan kalimat :
"Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Rasulullah ﷺ dalam Keadaan Istihadhah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat Selamanya ?" Rasulullah ﷺ lalu menjawab, "Jangan, Itu hanyalah peluh bukan haid. Maka, jika haidmu datang, tinggalkan shalat, dan jika telah berlalu maka cucilah darahmu, kemudian shalatlah." ( Dalam Fath Al-Bari: ini disebut dengan Adzhil( keringat panas ) dan disebut adzir( kotoran ) sebagaimana dalam Al Qamus itu bukan haidh.
---
Penjelasan hadits 
Hadits tersebut adalah dalil terjadinya istihadhah, dan memiliki hukum yang berbeda dengan hukum haid, dan telah dijelaskan oleh Rasulullah dengan sempurna, bahwa ia harus tetap shalat meskipun darah tetap mengalir. Dan menunggu datangnya haidh lalu meninggalkan shalatnya, dan jika telah berlalu, ia mencuci darah tersebut dan mandi 
---
Ali bin Abi Thalib ra berkata: Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi( yaitu air berwarna putih, lengket dan halus ), maka aku memerintahkan Al-Miqdad untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Maka dia bertanya, dan Beliau bersabda : “Ia harus wudhu.” Menurut Al-Bukhari, hadits Ini adalah tambahan [kemudian berwudhu pada setiap shalat]."
Subulussalam Syarah Bulughul Maram, Juz 1/91 )
Back To Top