وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Saat kita sholat berjamaah berdua saja.Pertanyaannya : Jika imannya batal , apakah ma'mum nya juga harus membatalkan sholatnya , atau boleh terus melanjutkan sholatnya ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (764)
By : Perpustakaan Hadits

💚 TEMA : WAJIBNYA MAKMUM UNTUK MUFARAQAH (BERPISAH DARI IMAM), APABILA MENGETAHUI SHALAT IMAM NYA BATAL

💚 PERTANYAAN : 

Tanuri Tanuri 

Saat kita sholat berjamaah berdua saja.
Pertanyaannya : 
Jika imannya batal , apakah ma'mum nya juga harus membatalkan sholatnya , atau boleh terus melanjutkan sholatnya ?

💚 DIJAWAB OLEH :

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Apabila makmum mengetahuinya (batalnya shalat imam) dipertengahan shalat, maka wajib baginya untuk berniat mufaraqah (pisah dari imam), kemudian menyempurnakan shalat. Dalam kondisi seperti ini shalatnya dihukumi sah. 
 
Syaikh Abdurrahman Al-Jazairi berkata :
 
‌لا ‌يصح ‌الاقتداء بالمحدث إذا علم المأموم به ابتداء، فإن علم بذلك في أثناء الصلاة وجبت عليه نية المفارقة، وأتم صلاته وصحت، وكفاه ذلك، وإن علم المأموم بحدث إمامه بعد فراغ الصلاة فصلاته صحيحة؛ وله ثواب الجماعة؛ أما صلاة الإمام فباطلة في جميع الأحوال لفقد الطهارة التي هي شرط للصلاة، ويجب عليه إعادتها
 
"Tidak sah bermakmum kepada imam yang berhadats, jika makmum mengetahui kondisi tersebut di permulaan shalat. Namun apabila ia mengetahuinya di pertengahan shalat, maka wajib baginya untuk berniat mufaraqah (pisah dari imam), kemudian menyempurnakan shalat. Dalam kondisi seperti ini shalatnya dihukumi sah. 
 
Selanjutnya, jika makmum mengetahui bahwa imam dalam kondisi berhadats setelah selesai dari shalat, maka shalatnya dihukumi sah dan ia mendapatkan pahala jamaah. Adapun shalat imam, maka tidak sah dalam semua keadaan tersebut. Sebab tidak dalam kondisi suci yang menjadi syarat sah shalat. Bagi imam wajib mengulang shalatnya."
(Al-Fiqh ala Al-Madzhab ala Arba’ah,juz I/374).

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Ketika sedang shalat berjamaah, kemudian imam berhadas, maka makmum wajib mufaraqah. Yakni,
berpisah dengan imam dan melanjutkan shalat sendirian.

Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan'ani berkata :

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْت عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
---
دَلَّ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ الْمُتَنَفِّلِ بِالْمُتَنَفِّلِ وَعَلَى أَنَّ مَوْقِفَ الْوَاحِدِ مَعَ الْإِمَامِ عَنْ يَمِينِهِ بِدَلِيلِ الْإِدَارَةِ إذْ لَوْ كَانَ الْيَسَارُ مَوْقِفًا لَهُ لَمَا أَدَارَهُ فِي الصَّلَاةِ، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ الْجَمَاهِيرُ وَخَالَفَ النَّخَعِيُّ فَقَالَ: إذَا كَانَ الْإِمَامُ وَوَاحِدٌ قَامَ الْوَاحِدُ خَلْفَ الْإِمَامِ فَإِنْ رَكَعَ الْإِمَامُ قَبْلَ أَنْ يَجِيءَ أَحَدٌ قَامَ عَنْ يَمِينِهِ أَخْرَجَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ.

Dari Ibnu Abbas ra berkata : " Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada suatu malam, aku berdiri di samping Beliau, kemudian Rasulullah menarik kepalaku dari belakang dan menjadikanku berada di sebelah kanannya." 
( Muttafaq Alaihi )
---
Penjelasan Hadits 
Hadits ini menunjukkan keabsahan orang yang shalat sunnah di belakang orang yang shalat sunnah, dan tempat berdiri makmum yang hanya satu berada di samping kanan imam. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Rasulullah menarik Ibnu Abbas ke sebelah kanannya. Jika posisinya yang benar ada di sebelah kiri imam, tentu Rasulullah tidak menarik dari sebelah kiri ke sebelah kanannya. Ini pendapat mayoritas ulama.

Dan Al-Nakha’i berbeda pendapat dengan mereka, ia berkata bahwa : Jika imam dengan seorang makmum, maka makmum berdiri di belakang imam. Dan ketika imam ruku' sebelum datang makmum satu orang tersebut, maka makmum berdiri di samping kanan imam. Diriwayatkan oleh Said Bin Mansyur.
( Subulussalam Syarah Bulughul Maram, juz 1/375 )

ولا تجوز خلف المحدث لأنه ليس من أهل الصلاة فإن صلى خلفه غير الجمعة ولم يعلم ثم علم فإن كان ذلك في أثناء الصلاة نوى مفارقته.

“Tidak boleh shalat menjadi makmum pada imam yang masih berhadats, sebab ia bukanlah orang yang layak untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi jika seseorang shalat di belakangnya, dalam selain shalat Jumat, dan dia tidak mengetahui bahwa imam shalatnya masih dalam keadaan berhadats, lalu di pertengahan shalat baru tersadar akan hal itu, maka wajib niat mufaraqah (berpisah dengan imam untuk shalat sendirian), kemudian menyempurnakan shalatnya. 
(Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhaddzab, juz I/184).
@semua orang
Labels: Fiqih

Thanks for reading Saat kita sholat berjamaah berdua saja.Pertanyaannya : Jika imannya batal , apakah ma'mum nya juga harus membatalkan sholatnya , atau boleh terus melanjutkan sholatnya ?. Please share...!

0 Komentar untuk "Saat kita sholat berjamaah berdua saja.Pertanyaannya : Jika imannya batal , apakah ma'mum nya juga harus membatalkan sholatnya , atau boleh terus melanjutkan sholatnya ?"

Back To Top