وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Gimana hukum nya kotoran cicak maupun burung di tempat sholat ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (765)
By : Perpustakaan Hadits

🤎 TEMA : HUKUM TENTANG KOTORAN CICAK DAN BURUNG YANG ADA DITEMPAT SHALAT

🤎 PERTANYAAN : 

Muhamad Sazili 

Gimana hukum nya kotoran cicak maupun burung di tempat sholat ?

🤎 DIJAWAB OLEH :

👉 Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ketika wujudnya kotoran burung atau cicak ini begitu banyak dan berada di tempat shalat saja, tidak sampai mengenai bagian tubuh dan pakaian orang yang shalat, seperti yang sering kita lihat di berbagai mushala-mushala pedesaan. Maka kotoran burung atau cicak ini dapat dihukumi ma’fu dengan tiga syarat. 
👉 Pertama, seseorang tidak menyengaja berdiri di tempat yang terdapat kotoran burung atau cicak tersebut. 
👉 Kedua, kotoran tersebut tidak basah. 
👉 Ketiga, sulit untuk menghindari kotoran ini. 

Berbeda hal nya ketika orang yang sedang shalat terkena najis berupa kotoran burung atau cicak maka ia harus segera membuangnya ketika najis tersebut dalam keadaan kering. 

Namun, ketika najis tersebut basah, maka ia harus melepas pakaiannya jika tidak sampai membuka aurat, jika sampai membuka aurat atau najis tersebut mengenai kulitnya maka shalatnya menjadi batal. 

Syekh Abu Bakar syatha ad-Dimyathi berkata :

قال: (قوله ومكان يصلى فيه) أي وطهارة مكان يصلى فيه ويستثنى منه ما لو كثر ذرق الطيور فيه فإنه يعفى عنه في الفرش والأرض بشروط ثلاثة أن لا يتعمد الوقوف عليه وأن لا تكون رطوبة وأن يشق الاحتراز عنه

"Dan disyaratkan sucinya tempat yang dibuat shalat. Dikecualikan dari hal ini permasalahan ketika banyak kotoran burung di tempat tersebut. Maka kotoran ini dihukumi najis yang ma’fu ketika berada di tanah atau permadani, dengan tiga syarat. Tidak menyengaja berdiam diri di tempat yang terdapat kotoran tersebut, kotoran tidak dalam keadaan basah dan sulit untuk dihindari." 
(I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 80)

👉 Isrini 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Kotoran cicak di-ilhaqkan (disamakan) dengan kotoran burung dan semacamnya seperti kelelawar, yakni diampuni( dima'fu ). Sehingga kotoran itu tidak perlu disucikan, cukup dibersihkan atau dihilangkan saja kotorannya baik kotorannya basah maupun kering.

Adapun sebab pengampunan najis semacam ini dikarenakan sulitnya menjaga diri dan lingkungan dari hewan-hewan semacam itu.

(ويعفى) أي في الصّلاة فقط، أو فيها وغيرها ما مرّ على عامر. قوله: (عن قليل دم البراغيث) ومثله فضلات ما لا نفس له سائلة. قال شيخ شيخنا عميرة ومثله بول الخفّاش، كما في شرح شيخنا ورجّح العلّامة ابن قاسم العفو عن كثيره أيضا. قال وذرقه كبوله، وقال تبعا لابن حجر، وكذا سائر الطّيور، ويعفى عن ذرقها وبولها، ولو في غير الصّلاة على نحو بدن أو ثوب قليلا أو كثيرا رطبا أو جافّا ليلا أو نهارا لمشقّة الاحتراز عنها فراجعه مع ما ذكروه في ذرق الطّيور في المساجد.

" Kotoran kelelawar sama halnya seperti kencingnya, pendapat beliau ini mengikuti Imam Ibnu Hajar, dan hal ini sama dengan jenis burung yang lainnya. Kotoran dan air kencingnya hukumnya dima’fu meskipun itu terjadi dalam selain shalat seperti terkena pada badan atau baju, baik najisnya sedikit atau banyak, basah ataupun kering, dan malam atau siang dikarenakan sulit untuk menjaganya, dan apa yang telah tertuturkan tadi itu hukumnya sama (dima’fu) dengan kotoran burung yang berada di dalam masjid.”
( Kitab Hasyiyah Qolyubi, juz 1/209 )

Imam An Nawawi mengatakan :

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة.

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir.” 
( Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, juz 1/129)

Imam Ibnu qudamah mengatakan :

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ.

“Binatang yang tidak memiliki darah mengalir semua bagian tubuhnya dan yang keluar dari tubuhnya (kotorannya) adalah suci.” 
(Al-Mughni, juz 3/252).
@sorotan
Labels: Fiqih

Thanks for reading Gimana hukum nya kotoran cicak maupun burung di tempat sholat ?. Please share...!

0 Komentar untuk "Gimana hukum nya kotoran cicak maupun burung di tempat sholat ?"

Back To Top