وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Ketika sedang berwudhuk baru sampai membasuh tangan tiba-tiba kran mati, apakah harus mengulang dari awal ketika kran airnya menyala?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP 
MENURUT 4 MADZHAB (741)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA : "Berturut-turut (Muwalah)"

🍀PERTANYAAN DARI

Pian Sopian 

Ketika sedang berwudhuk baru sampai membasuh tangan tiba-tiba kran mati, apakah harus mengulang dari awal ketika kran airnya menyala?

✅1. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi , bahwa muwalah adalah sunah Oleh sebab itu, jika seseorang menjarakkan masa dalam membasuh anggota-anggota wudhu. dengan kadar masa yang tidak lama, maka ia tidaklah memengaruhi apa-apa,

Sedangkan menurut madzhab Maliki dan Hambali berturut-turut (muwalah) merupakan fardhu (rukun) dalam wudhu, sehingga tidak boleh ada jarak.

Wahbah Az Zuhaili berkata

الموالاة أو الوِلاء: هي متابعة أفعال الوضوء بحيث لا يقع بينها ما يعد فاصلاً في العرف، أو هي المتابعة بغسل الأعضاء قبل جفاف السابق، مع الاعتدال مزاجاً وزماناً ومكاناً ومناخاً. واختلف الفقهاء في وجوبها .
فقال الحنفية الشافعية: الموالاة سنة لا واجب، فإن فرق بين أعضائه تفريقاً يسيراً لم يضر؛ لأنه لا يمكن الاحتراز عنه. وإن فرق تفريقاً كثيراً، وهو بقدر ما يجف الماء على العضو في زمان معتدل، أجزأه؛ لأن الوضوء عبادة لايبطلها التفريق القليل والكثير كتفرقة الزكاة والحج.
واستدلوا على رأيهم بالآتي:
1ً - «إنه صلّى الله عليه وسلم توضأ في السوق، فغسل وجهه ويديه، ومسح رأسه، فدعي إلى جنازة، فأتى المسجد يمسح على خفيه وصلى عليها» قال الإمام الشافعي: وبينهما تفريق كثير.
2ً - صح عن ابن عمر رضي الله عنهما التفريق أيضاً، ولم ينكر عليه أحد.
وقال المالكية والحنابلة: الموالاة في الوضوء لا في الغسل فرض، بدليل مايأتي:
1ً - «إنه صلّى الله عليه وسلم رأى رجلاً يصلي، وفي ظهر قدمه لُمْعة (بقعة) قدر الدرهم، لم يصبها الماء، فأمره النبي صلّى الله عليه وسلم أن يعيد الوضوء والصلاة» ولو لم تجب الموالاة لأجزأه غسل اللمعة. 
[2]ً - عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه «أن رجلاً توضأ فترك موضع ظفر على قدمه، فأبصره النبي صلّى الله عليه وسلم، فقال: ارجع فأحسن وضوءك، فرجع ثم صلى» .
3ً - مواظبته صلّى الله عليه وسلم على الوِلاء في أفعال الوضوء، فإنه لم يتوضأ إلا متوالياً، وأمر تارك الموالاة بإعادة الوضوء.
4ً - القياس على الصلاة، الوضوء عبادة يفسدها الحدث، فاشترطت الموالاة كالصلاة.

Berturut-turut (Muwalah)

Maksudnya adalah amalan-amalan wudhu hendaknya dilakukan secara terus-menerus, tidak ada ruang dan masa yang bisa dianggap sebagai pemisah dia antara satu perbuatan dengan perbuatan yang lain menurut 'urf, ataupun diartikan sebagai perbuatan membasuh anggota wudhu yang dilakukan secara berturut-turut sebelum basuhan anggota sebelumnya kering. Keadaan ini juga bergantung kepada normalnya suasana, masa, tempat, dan cuaca. Para fuqaha berselisih pendapat tentang hukum wajibnya muwalah ini.

Ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i berpendapat bahwa berturut-turut (muwalah) adalah amalan sunnah, bukan wajib. Oleh sebab itu, jika seseorang menjarakkan masa dalam membasuh anggota-anggota wudhu. dengan kadar masa yang tidak lama, maka ia tidaklah memengaruhi apa-apa, karena hal yang demikian itu adalah sulit untuk dielakkan. Jika seseorang menjarakkan dengan kadar masa yang lama hingga air wudhu menjadi kering dalam kondisi yang normal, juga dianggap mencukupi. Karena, wudhu adalah suatu ibadah yang tidak akan batal dengan jarak waktu, baik jaraknya pendek ataupun lama, kondisinya sama seperti zakat dan haji. Mereka mempertahankan pendapat mereka dengan hujjah-hujjah berikut. 

a) Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berwudhu di dalam sebuah pasar. Beliau membasuh muka dan kedua tangannya, serta mengusap kepala. Setelah itu, beliau diminta untuk melaksanakan shalat jenazah, kemudian beliau datang ke masjid sambil mengusap dua khufnya dan melaksanakan shalat jenazah tersebut. 

Imam Syafi'i berkata, "Di antara kedua (tindakan Nabi tersebut) terdapat jarak waktu yang lama."

(b) Menurut riwayat yang shahih dari Ibnu Umar, bahwa beliau pernah mengamalkan pemisahan jarak waktu tertentu tanpa diingkari oleh siapa pun.

Adapun ulama madzhab Maliki dan Hambali, mengatakan bahwa berturut-turut (muwalah) merupakan fardhu (rukun) dalam wudhu, namun ja bukan rukun dalam mandi. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut.

(a) Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melihat seorang laki-laki yang sedang mengerjakan shalat. Di kedua kakinya terdapat satu tempat yang lebarnya satu dirham yang tidak terkena air. Maka, Rasul menyuruh dia untuk mengulangi wudhu dan shalatnya. Jika tindakan berturut-turut (muwalah) tidak wajib, niscaya ia cukup dengan membasuh bagian tersebut saja.

(b) Diriwayatkan dari Umar bahwa seorang laki-laki telah berwudhu dan dia tidak membasuh kuku kaki. Hal ini terlihat oleh baginda Rasulullah ﷺ dan beliau berkata, "Kembali dan sempurnakanlah wudhumu." Kemudian laki-laki itu pun berwudhu lagi dan kemudian melaksanakan shalat.

(c) Baginda Rasulullah ﷺ selalu memelihara perbuatan berturut-turut (muwalah) dalam semua amalan wudhunya. Beliau tidak pernah berwudhu kecuali dilakukan dengan berturut-turut, dan beliau menyuruh orang yang meninggalkan muwalah agar mengulangi wudhunya.

(d) Wudhu diqiyaskan kepada shalat, yaitu ibadah yang bisa rusak karena hadats. Oleh sebab itu, tindakan berturut-turut (muwalah) disyaratkan di dalamnya seperti juga dalam shalat.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz I/233-235)

✅2. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ada perbedaan pendapat jika terjadi pada jeda yang lama, yaitu :
👉 Menurut pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan. 

👉 Sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah.

Imam Nawawi berkata :

فصل أعضاء الوضوء مدةً لا إشكال فيه، وهو متفق عليه بين العلماء. إلا أنه خلافٌ في حال طول المدة،فرأي الإمام الشافعي القديم لا يجيز ذلك، ورأي الجديد لا يجيز الموالاة.

Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama. Akan tetapi ada perbedaan pendapat ketika terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang qadim (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat jadid (baru) membolehkan tidak ada muwalah.
(al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab, juz 2/189)
Labels: Fiqih

Thanks for reading Ketika sedang berwudhuk baru sampai membasuh tangan tiba-tiba kran mati, apakah harus mengulang dari awal ketika kran airnya menyala?. Please share...!

0 Komentar untuk "Ketika sedang berwudhuk baru sampai membasuh tangan tiba-tiba kran mati, apakah harus mengulang dari awal ketika kran airnya menyala?"

Back To Top