Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP
MENURUT 4 MADZHAB (721)
By : Perpustakaan Hadits
TEMA : "Ghibah tidak membatalkan wudhu"
🍀PERTANYAAN DARI
@Faqir ilmu
Apakah ghibah membatalkan wudhu?
🍀DIJAWAB OLEH
✅1. Rina Leriyani I
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Ghibah tidak membatalkan wudhu , Ghibah adalah perbuatan dosa yang dilarang, tetapi tidak terkait dengan keabsahan wudhu.
Menurut madzhab syafi'i , ada 4 perkara yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya segala sesuatu yang keluar melalui salah satu dari dua kemaluan, hilang akal , bersentuhan kulit antara lelaki dan perempuan walaupun yang disentuh dudah meninggal , dan menyentuh kemaluan , Tetapi berwudhu karena ghibah hanya anjuran namun itu tidak wajib.
Ibnu Abbas berkata :
الْحَدث حدثان أشدهما حدث اللِّسَان
Hadats itu ada 2 , Yang Paling buruk adalah hadatsnya Lisan
(HR Bukhari nomor 92 , Adh Dhu'afa' Ash Shaghir , Di Dha'ifkan Bukhari )
Ibnu Mas'ud berkata :
لَأَنْ أَتَوَضَّأَ مِنَ الْكَلِمَةِ الْخَبِيثَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَوَضَّأَ مِنَ الطَّعَامِ الطَّيِّبِ
Aku berwudhu disebabkan kata-kata yang jelek lebih aku sukai daripada aku berwudhu disebabkan makanan yang baik.
(HR Thabraniy nomor 9222 , Al Mu'jam Al Ausath)
Imam Nawawi berkata :
وَالْمَعْنَى يَدُلُّ عَلَيْهِ لِأَنَّ غَسْلَ الْفَمِ لَا يُؤَثِّرُ فِيمَا جَرَى مِنْ الْكَلَامِ وَإِنَّمَا يُؤَثِّرُ فِيهِ الْوُضُوءُ الشَّرْعِيُّ وَالْغَرَضُ مِنْهُ تَكْفِيرُ الْخَطَايَا كَمَا ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ فَحَصَلَ أَنَّ الصَّحِيحَ أَوْ الصَّوَابَ اسْتِحْبَابُ الْوُضُوءِ الشَّرْعِيِّ مِنْ الْكَلَامِ الْقَبِيحِ كَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْكَذِبِ وَالْقَذْفِ وَقَوْلِ الزُّورِ وَالْفُحْشِ وَأَشْبَاهِهَا وَلَا خِلَافَ فِي اسْتِحْبَابِهِ إذَا ضَحِكَ فِي الصلاة ولا يجب شئ مِنْ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي كِتَابَيْهِ الْأَشْرَافِ وَالْإِجْمَاعِ وَابْنُ الصَّبَّاغِ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجِبُ الْوُضُوءُ مِنْ الْكَلَامِ الْقَبِيحِ كَالْغِيبَةِ وَالْقَذْفِ وَقَوْلِ الزُّورِ وَغَيْرِهَا وَنَقَلَ الرُّويَانِيُّ عَنْ الشِّيعَةِ إيجَابَ الْوُضُوءِ مِنْ ذَلِكَ وَالشِّيعَةُ لَا يُعْتَدُّ بِخِلَافِهِمْ
Maknanya sesuai dengan indikasi yang terkandung di dalamnya, karena membasuh mulut itu tidak memberikan pengaruh terhadap kalimat yang telah terlontar dari mulut, yang memberikan pengaruh adalah wudhu menurut makna syar'i. Tujuannya adalah menghapus kesalahan dan dosa, sebagaimana yang disebutkan hadits-hadits.
Dengan demikian maka yang benar adalah anjuran agar berwudhu menurut makna syar'i jika telah mengucapkan kata-kata yang jelek seperti ghibah (menggunjing), namimah (menceritakan ucapan seseorang kepada orang lain), dusta, tuduhan palsu, ucapan bohong, nista dan sebagainya.
Tidak ada perbedaan pendapat tentang anjuran berwudhu jika tertawa dalam shalat, akan tetapi semua itu tidak mewajibkan wudhu.
Ibnu Al Mundzir dalam dua kitabnya; Al Isyraf dan Al Ijma', dan Ibnu Ash-Shabbagh berkata, "Para ulama telah Ijma' bahwa tidak wajib berwudhu disebabkan mengucapkan kata-kata jelek seperti ghibah, tuduhan palsu, ucapan dusta dan lainnya.
Ar-Ruyani meriwayatkan dari golongan Syi'ah tentang 1 berwudhu disebabkan mengucapkan kata-kata yang jelek. Tidak mengapa berbeda pendapat dengan golongan Syi'ah.
(Al Majmu' Syarh al-Muhadzdzab ll / 62)
Wahbah Az Zuhaili berkata
نواقض الوضوء أربعة:
الأول ـ الخارج من أحد السبيلين إلا المني أي مني الشخص نفسه، لأنه أوجب الغسل.
الثاني ـ زوال العقل بجنون أو إغماء أو نوم إلا النوم قاعداً ممكِّناً مقعده من مقره كالأرض، وظهر دابة سائرة، وإن كان مستنداً إلى شيء بحيث لو زال، لسقط.الثالث ـ التقاء بشرتي الرجل والمرأة ولو ميتة، عمداً أو سهواً. وينتقض اللامس والملموس، ولا ينقض صغير أو صغيرة لا تشتهى، ولا ينقض شعر وسن وظفر، ومحرم بنسب أو رضاع أو مصاهرة، أي المحرَّمات بصفة التأبيد، لا المؤقتة كأخت الزوجة فإنها تنقض الوضوء.
الرابع ـ مس قبل الآدمي، وحلقة دبره، بباطن الكف. ولا ينتقض الممسوس. وينقض فرج الميت والصغير، ومحل الجَبِّ كله لا الثقبة فقط، والذكر المقطوع. ولا ينقض فرج البهيمة، ولا المس برأس الأصابع وما بينها.
Terdapat empat perkara yang membatalkan wudhu:
(a) Segala sesuatu yang keluar melalui salah satu dari dua kemaluan, kecuali air mani (yaitu maninya orang yang berwudhu itu sendiri) karena keluarnya mani mewajibkan mandi.
(b) Hilang akal dengan sebab gila, pingsan, atau tidur, kecuali tidur dalam keadaan bagian badannya yang digunakan untuk duduk (pantat) rapat pada tempat duduknya, seperti rapat pada tanah (lantai) atau rapat dengan punggung binatang yang dikendarai, walaupun dia juga bersandar kepada sesuatu yang jika sandaran itu dibuang maka dia akan jatuh.
(c) Bersentuhnya kulit laki-laki dan perempuan walaupun perempuan yang disentuh itu sudah mati, baik disengaja ataupun tidak. Wudhu orang yang menyentuh dan orang yang disentuh tetap batal. Akan tetapi, wudhu tidak akan batal dengan menyentuh seorang anak-anak laki-laki atau anak-anak perempuan yang kedua duanya masih kecil dan tidak menimbulkan syahwat.
Wudhu juga tidak batal dengan sebab menyentuh rambut, gigi, dan kuku. Begitu juga tidak batal menyentuh mahram, baik mahram itu dengan sebab keturunan, penyusuan, atau pernikahan (yaitu perempuan-perempuan yang menjadi mahram selama-lamanya akibat pernikahan), bukan perempuan yang menjadi mahram sementara seperti kakak atau adik ipar, karena mereka dapat menyebabkan batalnya wudhu; dan
(d) Menyentuh kemaluan bagian depan anak Adam dan lubang (halaqah) dubur dengan batin telapak tangan. Akan tetapi, wudhu orang yang disentuh tidak ikut menjadi batal. Wudhu menjadi batal dengan sebab menyentuh kemaluan mayat dan anak-anak laki-laki yang kecil, menyentuh tempat asal kemaluan yang semuanya terpotong, dan menyentuh penis yang terpotong. Wudhu tidak akan menjadi batal dengan menyentuh vagina binatang, begitu juga jika disentuh dengan ujung jari.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz I/439-440)
✅2. Vitha Finalia
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Ada perbedaan pendapat dari para ulama mengenai hal ini yaitu :
👉 Pertama, menurut satu pendapat yang bersumber dari Imam Ahmad, ghibah termasuk perkara yang membatalkan wudhu. Karena itu, jika seseorang menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain, maka wudhunya batal dan dia harus melakukan wudhu kembali ketika hendak melakukan shalat.
👉 Kedua, ghibah tidak termasuk bagian yang membatalkan wudhu. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah dan Syafiiyah. Hanya saja, meski wudhu tidak batal sebab ghibah, namun jika seseorang melakukan ghibah, maka dia disunnahkan untuk melakukan wudhu lagi. Begitu juga disunnahkan melakukan wudhu lagi jika dia berkata kotor dan jorok, seperti mengumpat dan lainnya.
الْغِيبَةُ وَالْكَلاَمُ الْقَبِيحُ: حُكِيَ عَنْ أَحْمَدَ رِوَايَةُ أَنَّ الْوُضُوءَ يَنْتَقِضُ بِالْغِيبَةِ. وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى اسْتِحْبَابِ الْوُضُوءِ الشَّرْعِيِّ مِنَ الْكَلاَمِ الْقَبِيحِ كَالْغِيبَةِ
Ghibah dan berkata kotor: Disebutkan satu riwayat yang bersumber dari Imam Ahmad bahwa wudhu menjadi batal sebab ghibah.
Sementara ulama Hanafiyah dan ulama Syafiiyah berpendapat mengenai anjuran melakukan wudhu secara syar’i setelah berkata-kata kotor, seperti ghibah.
(Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, juz 1/128)
✅3. Rini Madiun Isrini
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh..
Ghibah( menggunjing orang lain ) tidak menyebabkan wudhu seseorang menjadi batal. Dan tidak mewajibkan bersuci.
Perkara perkara yang membatalkan wudhu di antaranya adalah :
1. sesuatu yang keluar dari dua jalan (depan belakang),
2. tidur dalam keadaan tidak tetap,
3. hilang akal karena mabuk atau sakit,
4. sentuhan laki-laki dengan wanita bukan mahram tanpa penghalang,
5. menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam,
6. menyentuh kawasan sekitar anus.
Al Qadhi Abu Syuja' berkata :
فَصْلٌ: وَالَّذِي يُنْقِضُ الوُضُوءَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: مَا خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ وَالنَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ المُتَمَكِّنِ وَزَوَالُ العَقْلِ بِسَكْرٍ أَوْ مَرَضٍ وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الأجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ وَمَسُّ فَرْجِ الآدَمِي بِبَاطِنِ الكَفِّ وَمَسُّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ عَلَى الجَدِيدِ
Fasal: Perkara yang membatalkan wudhu ada enam perkara:
1. sesuatu yang keluar dari dua jalan (depan belakang),
2. tidur dalam keadaan tidak tetap,
3. hilang akal karena mabuk atau sakit,
4. sentuhan laki-laki pada wanita bukan mahram tanpa penghalang,
5. menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam,
6. menyentuh kawasan sekitar anus (dubur) menurut qaul jadid.
( Al Ghayah Wat Taqrib hal 22 )
Ibnu Qadamah mengatakan :
وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ: أَجْمَعَ مَنْ نَحْفَظُ قَوْلَهُ مِنْ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ عَلَى أَنَّ الْقَذْفَ، وَقَوْلَ الزُّورِ، وَالْكَذِبَ، وَالْغِيبَةَ لَا تُوجِبُ طَهَارَةً، وَلَا تَنْقُضُ وُضُوءًا، وَقَدْ رَوَيْنَا عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ الْأَوَائِلِ أَنَّهُمْ أَمَرُوا بِالْوُضُوءِ مِنْ الْكَلَامِ الْخَبِيثِ،كَالْغِيبَةِ.وَذَلِكَ اسْتِحْبَابٌ عِنْدَنَا.
Ibnu Mundzir berkata :
Para ulama di berbagai Negeri telah Ijma' bahwa tuduhan palsu, mengucapkan kata-kata jelek, ucapan dusta dan ghibah tidak mewajibkan bersuci dan tidaklah membatalkan wudhu.
Kami telah meriwayatkan lebih dari satu ulama terdahulu, bahwa mereka memerintahkan untuk berwudhu setelah mengucapkan kata kata kotor, seperti ghibah. Dan ini dianjurkan menurut pendapat kami.
( Al Mughni, juz 1/ 131 )
✅4. Senja
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
ghibah tidak membatalkan wudhu, dan tidak diwajibkan untuk bersuci
Ibnul Mundzir berkata :
وأجمع كل من يحفظ عنه من علماء الأمصار على أن القذف، وقول الزور والكذب والغيبة لا توجب طهارة ولا تنقض وضوء
Para ulama di berbagai Negeri telah Ijma' bahwa tuduhan palsu , mengucapkan kata-kata jelek , ucapan dusta dan ghibah tidak mewajibkan bersuci dan tidaklah membatalkan wudhu.
(Al Iqna' fi Masa'ilil Ijma' l / 84)
Labels:
Fiqih
Thanks for reading Apakah ghibah membatalkan wudhu?. Please share...!
0 Komentar untuk "Apakah ghibah membatalkan wudhu?"