وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ» [رواه أبو داود (٣٦٤١)، والترمذي (٢٦٨٢)، وصحَّحه الألباني في «صحيح أبي داود» (٣٦٤١)].

Jika seseorang mengubah niat shalat fardhu , dari shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain, Atau dari shalat fardhu ke shalat sunah , Apakah sah ?

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DI GRUP 
MENURUT 4 MADZHAB (775)
By : Perpustakaan Hadits

TEMA : "Mengubah niat"

🍀PERTANYAAN DARI

Khalim Halim 

Jika seseorang mengubah niat shalat fardhu , dari shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain, Atau dari shalat fardhu ke shalat sunah , Apakah sah ?

🍀DIJAWAB OLEH

✅1. Rina Leriyani I 

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Jika mengubah niat shalat fardhu satu ke shalat fardhu lain maka batal kedua shalat tersebut, tapi ketika mengubah shalat fardhu ke shalat sunah , maka menjadi shalat sunah.

Wahbah Az Zuhaili berkata

تغيير النية: اتفق الفقهاء على أن المصلي إذا أحرم بفريضة، ثم نوى نقلها إلى فريضة أخرى، بطلت الاثنتان؛ لأنه قطع نية الأولى، ولم ينو الثانية عند الإحرام. فإن حول الفرض إلى نفل، فالأرجح عند الشافعية أنها تنقلب نفلاً؛ لأن نية الفرض تتضمن نية النفل، بدليل أنه لو أحرم بفرض، فبان أنه لم يدخل وقته، كانت صلاته نافلة، والفرض لم يصح، ولم يوجد ما يبطل النفل.
والحاصل: تبطل الصلاة بفسخ النية أو تردده فيها أو عزمه على إبطالها أو نية الخروج من الصلاة، أو إبطالها وإلغاء ما فعله من الصلاة، أو شكه هل نوى أو لا، أو بالانتقال من صلاة إلى أخرى

MENGUBAH NIAT

Para ahli fiqih bersepakat bahwa orang yang melakukan shalat dan berniat melaksanakan salah satu shalat fardhu, kemudian di tengah shalat dia mengubah niatnya menjadi niat melaksanakan shalat fardhu yang lain, maka batallah dua shalat yang diniati tersebut. Karena, dia telah memutus keberlangsungan niat yang pertama, dan dia tidak melakukan niat yang kedua pada waktu ihram. 

Apabila seseorang mengubah niat shalatnya dari shalat fardhu menjadi shalat sunnah, maka menurut pendapat yang paling rajih dalam madzhab Syafi'i, adalah shalat tersebut menjadi shalat sunnah. Karena, niat shalat fardhu sudah mencakup niat shalat sunnah. 

Dalilnya adalah apabila seseorang niat ihram fardhu, kemudian dia tahu bahwa musim haji belum datang, maka ihramnya menjadi ihram sunnah, dan ihram yang fardhu tidak jadi. Selain itu, memang tidak ada perkara yang membatalkan ibadah sunnah tersebut.

Kesimpulannya adalah shalat menjadi batal apabila sengaja membatalkan niatnya atau muncul keraguan pada niat, atau dia berkeinginan kuat untuk membatalkan niatnya atau berniat ingin keluar dari shalat, atau membatalkan niatnya dan menggugurkan amalan shalat yang sudah dilakukan, atau ragu apakah sudah niat atau belum, atau berpindah dari satu shalat ke shalat lain.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu)

✅2. Vitha Finalia 

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

👉 Mengubah niat shalat fardhu ke shalat fardhu lain, itu tidak SAH.

👉 Tetapi Mengubah niat shalat fardhu ke shalat sunnah itu dibolehkan atau SAH.

Imam Nawawi mengatakan:

قال الماوَرْدِيُّ: نقلُ الصلاةِ إلى صلاةٍ أقسامٌ: أحدُها: نقلُ فرضٍ إلى فرض: فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثاني: نقلُ نفلٍ راتبٍ إلى نفلٍ راتبٍ؛ كَوِتْرٍ إلى سنةِ الفجر فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثالث: نقلُ نفلٍ إلى فرضٍ فلا يحصل واحدٌ منهما. انتهى .

"Al Mawardi membagi perubahan niat shalat ke dalam beberapa jenis: 
👉Pertama, merubah niat shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain.Kedua shalat sama-sama tidak sah. 
👉Kedua, merubah shalat sunnah rawatib (tidak mutlak) ke shalat sunnah rawatib yang lain, seperti shalat witir ke shalat sunnah subuh. Keduanya juga sama-sama tidak sah. 
👉Ketiga, merubah shalat sunnah ke shalat fardhu. Juga tidak sah.
Namun, kalau shalat fardhu dirubah ke shalat sunnah mutlak, maka itu dibolehkan."
(al Majmu’ Syarah al Muhadzdzab, juz 4/183)

✅3. Isrini Madiun Rinrin 

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Merubah niat shalat fardhu dari yang sedang dilakukan ke shalat fardhu yang lain secara sengaja dan mengetahui hukumnya, maka batal shalatnya.

Apabila ia shalat fardhu kemudian merubah niat ke shalat sunah, maka shalatnya sah.

وعند الشافعية : لو قلب المصلي صلاته التي هو فيها صلاة أخرى عالما عامدا بطلت , فإن كان له عذر صحت صلاته , وانقلبت نفلا . وذلك كظنه دخول الوقت , فأحرم بالفرض , ثم تبين له عدم دخول الوقت فقلب صلاته نفلا , أو قلب صلاته المنفردة نفلا ليدرك جماعة . لكن لو قلبها نفلا معينا كركعتي الضحى لم تصح . أما إذا حول نيته بلا سبب أو غرض صحيح فالأظهر عندهم بطلان الصلاة .

Madzhab Syafi'i berpendapat: 
Apabila mushalli (orang yg shalat) merubah niat shalat fardhu dari yang sedang dia lakukan ke shalat fardhu yang lain secara sengaja dan tahu dampak hukumnya maka batal shalatnya.

Apabila karena udzur maka sah shalatnya dan berubah menjadi shalat sunnah. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menduga sudah masuk waktu shalat lalu takbirotul ihrom shalat fardhu dan setelah itu baru menyadari belum masuk waktu shalat lalu dia merubah shalatnya ke sunnah; atau ia merubah shalatnya yg sendirian ke sunnah agar dapat mengikuti shalat berjamaah. 

Akan tetapi apabila ia merubah niatnya ke sunnah yang tertentu (bukan mutlak) seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah. Adapun apabila merubah niatnya tanpa sebab atau tanpa tujuan yang benar maka menurut pendapat terkuat hukumnya batal shalatnya.
( Mausu'ah Al Fiqiyah Al Kuwaitiyah, juz 9/297 )

✅4. Senja 

Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabaraktuh

Hukum merubah niat shalat Fardhu yang sedang dikerjakan dengan shalat Fardhu yang lainnya secara sengaja atau tahu hukumnya adalah tidak sah atau batal. 

Sedangkan merubah niat shalat fardhu ke shalat sunnah, maka hukumnya sah. 

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ

"Yang keenam adalah merubah niat pada yang selain diniati. Apabila ia merubah shalat fardhu yang sedang dilakukan ke shalat fardhu yang lain secara sengaja dan tahu, maka batal shalatnya.

Apabila menyertakan niat dengan kata "insyaAllah" atau berniat dengan maksud tabaruk atau pekerjaan itu terjadi dengan 'insyaAllah' maka tidak apa-apa, atau taklik (kondisional) atau talak maka tidak sah shalatnya karena itu menafikan. 

Apabila merubah niat dari fardhu ke sunnah agar dapat mengikuti shalat jamaah sedangkan dia dalam keadaan sendirian dan sunnahnya tidak tertentu lalu mengucapkan salam dari dua rakaat agar bisa mengikuti shalat berjamaah yang disyariatkan, maka hal itu sah.

Namun apabila mengganti niat ke sunnah yang tertentu seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah shalatnya karena itu butuh pada penentuan. 

Adapun apabila shalat berjamaah itu tidak disyariatkan seperti ia sedang shalat zhuhur lalu dia melihat ada yang shalat berjamaah ashar maka tidak boleh memutus shalat (yang sedang dilakukan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmuk."
( Al Iqna', juz 1/151 )
Labels: Fiqih

Thanks for reading Jika seseorang mengubah niat shalat fardhu , dari shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain, Atau dari shalat fardhu ke shalat sunah , Apakah sah ?. Please share...!

0 Komentar untuk "Jika seseorang mengubah niat shalat fardhu , dari shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain, Atau dari shalat fardhu ke shalat sunah , Apakah sah ?"

Back To Top