Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
DOKUMENTASI HASIL TANYA JAWAB DIGRUP MENURUT 4 MADZHAB (777)
By : Perpustakaan Hadits
🧚 TEMA : HUKUM TENTANG WUDHU DAN SHALAT ORANG YANG UZUR
🧚 PERTANYAAN :
Ana al faqir
Batuk terus menerus dan sampai mengeluarkan air kencing/kentut, apakah harus wudhu berturut-turut?
🧚 DIJAWAB OLEH :
👉 Rina Leriyani II
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Tidak perlu wudhu terus terusan, cukup 1x tapi sebelum wudhu hendaknya terlebih dahulu dibersihkan , Setelah dicuci bersih lalu kemaluannya disumpal dengan kain dan diikat dengan rapi supaya tidak ada yang menetes keluar ketika selesai wudhu dan ketika shalat, Setelah rapi , lalu segera wudhu langsung shalat , tidak boleh ada jeda misal minum , mengobrol dan lainnya,
Wahbah Az Zuhaili berkata
وأحكام وضوء المعذور وصلاته تحتاج لتفصيل بين المذاهب.
---
مذهب الشافعية : صاحب السلَس الدائم من بول أو مذي أو غائط أو ريح، والمستحاضة، يغسل الفرج ثم يحشوه إلا إذا كان صائماً، أو تأذت المستحاضة به، فأحرقها الدم فلا يلزم الحشو حينئذ، ثم يعصِب. وكيفية العصب للمستحاضة مثلاً: أن تشد فرجها بعد غسله بخرقة مشقوقة الطرفين، تخرج أحدهما من أمامها، والآخر من خلفها، وتربطهما بخرقة تشدها على وسطها كالتكة.ثم يتوضأ أو يتيمم عقب ذلك فوراً، أي أنه تجب الموالاة بين الأفعال من عصب ووضوء، يفعل كل ذلك فوراً، أي أنه تجب الموالاة بين الأفعال من عصب ووضوء، يفعل كل ذلك بعد دخول وقت الصلاة، لأنه طهارة ضرورة، فلا تصح قبل الوقت كالتيمم. ثم يبادر وجوباً إلى الصلاة تقليلاً للحدث، فلو أخر لمصلحة الصلاة كستر العورة، وأذان وإقامة، وانتظار جماعة، واجتهاد في قبلةوذهاب إلى مسجد، وتحصيل سترة، لم يضر، لأنه لا يعد بذلك مقصراً، وإلا كأن أخر لا لمصلحة الصلاة كأكل وشرب وغزل وحديث، فيضر التأخير على الصحيح، فيبطل الوضوء، وتجب إعادته وإعادة الاحتياط لتكرر الحدث والنجس مع إمكان الاستغناء عنه.
Hukum hukum yang berkaitan dengan wudhu dan shalat orang Yang uzur, memerlukan penjelasan dari berbagai pendapat madzhab.
---
Madzhab Syafi'i
Orang yang mengidap penyakit as-salas yang berterusan seperti air kencing, madzi, najis atau angin, serta perempuan yang terkena istihadhah hendaklah membersihkan kemaluan kemudian menutupnya (dengan cara memasukkan sesuatu ke dalamnya). Akan tetapi jika dia sedang berpuasa atau tindakan tersebut menyakitkan perempuan yang beristihddah dan menyebabkan dia merasakan pedih karena tekanan darah, maka pada saat itu dia tidak wajib menyumbat atau mengikat.
Cara perempuan yang ber-istihadhah menutup serta mengikat kemaluannya adalah dengan menempelkan sesuatu pada vagina secara rapi. Yaitu, dengan menggunakan sehelai kain yang memiliki dua ujung yang bercabang, salah satu ujung tersebut ditarik ke depan dan ujung yang satu lagi ditarik ke belakang. Kedua-duanya kemudian diikat dengan kain yang lain di pinggang seperti posisi ikat pinggang celana.
Setelah itu, dia berwudhu atau bertayamum dengan segera, yaitu wajib berurutan antara mengikat vagina dengan amalan berwudhu. Ia dilakukan setiap waktu shalat telah masuk. Hal ini karena dia ditetapkan sebagai orang yang dihukumi dalam keadaan suci karena keadaan darurat. Oleh sebab itu, tidak sah jika dilakukan sebelum waktu shalat masuk, kedudukan adalah sama seperti tayamum.
Kemudian dia wajib melakukan shalat secara bersegera untuk memendekkan masa hadats. Jika ia mengakhirkan shalat karena ada kepentingan diri atau karena kepentingan yang berkaitan dengan shalat seperti menutup aurat, adzan dan iqamah, menunggu jamaah, berijtihad mencari arah qiblat, berjalan ke masjid dan mendapat halangan, maka wudhunya tidak rusak (tidak batal). Hal ini karena perkara tersebut tidak dihitung sebagai sesuatu yang telah memperlambat shalat.
Akan tetapi jika tidak seperti dia memperlambat shalat bukan karena sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan shalat, seperti karena makan, minum, menjahit, dan berbicara, maka menurut pendapat yang ashah, kelewatan tersebut membahayakan wudhunya dan ia menjadi batal. Oleh sebab itu, dia wajib mengulangi wudhu dan juga mengulangi untuk menjaga salas-nya karena hadats dan najis yang berulang-ulang sedangkan dia mampu menghindarkannya.
(Alfiqhul islam wa adilatuhu juz I/293)
👉 Vitha Finalia
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Tidak perlu wudhu secara terus-terusan, hal ini sama seperti orang yang sedang istihadhah atau selalu mengeluarkan madzi bagi pria, maka solusinya ketika hendak wudhu adalah dengan membersihkan kemaluan terlebih dahulu kemudian menutup jalan keluar kencing, dan ketika melakukan shalat adalah sambil duduk untuk menjaga agar tetap suci dan tidak perlu mengulang shalatnya.
Musthafa Dib al-Bugha berkata :
فالمستحاضة تغسل الدم، وتربط على موضعه، وتتوضأ لكل فرض، وتصلي.
"Perempuan yang mengalami istihadhah membersihkan dahulu darahnya, kemudian membalut/menutup jalan keluar darah, dan berwudhu setiap kali hendak shalat fardhu."
(Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab al Imam Asy-Syafi'i, juz 1/75)
Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan'ani berkata :
وَعَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ أَبِي حُبَيْشٍ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي وَاللهِ مَا أَطْهَرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ أَبَدًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ ; وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ ; فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ , وَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا , فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي .(متفق علیه)
---
أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ أَبِي حُبَيْشٍ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي وَاللهِ مَا أَطْهَرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ أَبَدًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ ; وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ ; فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلَاةَ , وَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا , فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي . وَفِي فَتْحِ الْبَارِي: أَنَّ هَذَا الْعِرْقَ يُسَمَّى الْعَاذِلَ بِعَيْنٍ مُهْمَلَةٍ وَذَالٍ مُعْجَمَةٍ، وَيُقَالُ عَاذِرٌ بِالرَّاءِ بَدَلًا عَنْ اللَّامِ، كَمَا فِي الْقَامُوسِ [وَلَيْسَ بِحَيْضٍ]
---
الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى وُقُوعِ الِاسْتِحَاضَةِ، وَعَلَى أَنَّ لَهَا حُكْمًا يُخَالِفُ حُكْمَ الْحَيْضِ، وَقَدْ بَيَّنَهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَكْمَلَ بَيَانٍ، فَإِنَّهُ أَفْتَاهَا بِأَنَّهَا لَا تَدَعُ الصَّلَاةَ مَعَ جَرَيَانِ الدَّمِ، وَبِأَنَّهَا تَنْتَظِرُ وَقْتَ إقْبَالِ حَيْضَتِهَا فَتَتْرُكُ الصَّلَاةَ فِيهَا، وَإِذَا أَدْبَرَتْ غَسَلَتْ الدَّمَ وَاغْتَسَلَتْ،
---
وَعَنْ «عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: كُنْت رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْت الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: فِيهِ الْوُضُوءُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَلِلْبُخَارِيِّ: أَيْ حَدِيثُ " هَذَا زِيَادَةٌ [ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ] وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدًا؛
Aisyah ra berkata :
"Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Rasulullah ﷺ dalam Keadaan Istihadhah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat Selamanya ?" Rasulullah ﷺ lalu menjawab, "Jangan, Itu hanyalah peluh bukan haid. Maka, jika haidmu datang, tinggalkan shalat, dan jika telah berlalu maka cucilah darahmu, kemudian shalatlah."
(Muttafaq Alaihi )
---
Penjelasan kalimat :
"Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Rasulullah ﷺ dalam Keadaan Istihadhah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat Selamanya ?" Rasulullah ﷺ lalu menjawab, "Jangan, Itu hanyalah peluh bukan haid. Maka, jika haidmu datang, tinggalkan shalat, dan jika telah berlalu maka cucilah darahmu, kemudian shalatlah." ( Dalam Fath Al-Bari: ini disebut dengan Adzhil( keringat panas ) dan disebut adzir( kotoran ) sebagaimana dalam Al Qamus itu bukan haidh.
---
Penjelasan hadits
Hadits tersebut adalah dalil terjadinya istihadhah, dan memiliki hukum yang berbeda dengan hukum haid, dan telah dijelaskan oleh Rasulullah dengan sempurna, bahwa ia harus tetap shalat meskipun darah tetap mengalir. Dan menunggu datangnya haidh lalu meninggalkan shalatnya, dan jika telah berlalu, ia mencuci darah tersebut dan mandi
---
Ali bin Abi Thalib ra berkata: Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi( yaitu air berwarna putih, lengket dan halus ), maka aku memerintahkan Al-Miqdad untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Maka dia bertanya, dan Beliau bersabda : “Ia harus wudhu.” Menurut Al-Bukhari, hadits Ini adalah tambahan [kemudian berwudhu pada setiap shalat]."
Subulussalam Syarah Bulughul Maram, Juz 1/91 )
Labels:
Fiqih
Thanks for reading Batuk terus menerus dan sampai mengeluarkan air kencing/kentut, apakah harus wudhu berturut-turut?. Please share...!
0 Komentar untuk "Batuk terus menerus dan sampai mengeluarkan air kencing/kentut, apakah harus wudhu berturut-turut?"